215 Warga Gorontalo Terinveksi HIV/AIDS, PNS Urutan ke 3

215 Warga Gorontalo Terinveksi HIV/AIDS, PNS Urutan ke 3 Peta dan data penderita HIV/AIDS di Gorontalo. (ilustrasi Atip/Gorontalo Post)

Berita Terkait


GORONTALO, Hargo.co.id – Penyebaran Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Gorontalo cukup mengkhawatirkan.

Bahkan, pihak terkait menyebut kasus HIV/AIDS di negeri serambi Madina ini bagaikan fenomena gunung es.

Data yang terungkap hanya sebagian saja dari jumlah penderita yang sebenarnya. Hingga februari 2016, jumlah penderita HIV/AIDS di Gorontalo mencapai 215 jiwa, terbagi pada penderita HIV 82 jiwa, dan 133 jiwa adalah AIDS.

Jumlah ini meningkat drastis dari tahun 2014 yang hanya ada 165 penderita. Penyebaran paling banyak berada di Kota Gorontalo dengan 93 penderita, sementara paling sedikit adalah Gorontaloi Utara dengan 6 penderta.

Sebagian diantara para penderita telah meninggal dunia. Jika dirinci per profesi pekerjaan, maka paling tinggi adalah berprofesi sebagai wiraswasta yang mencapai 68 penderita. Posisi kedua adalah ibu rumah tangga (IRT) dengan 24 penderita.

Urutan ketiga adalah pegawai negeri sipil (PNS) yakni sebanyak 22 penderita. PNS dimaksud tidak dirinci apakah pejabat atau staf biasa. Hanya saja, peningkatan penderita dari penyakit yang disebabkan karena hubungan seks bebas ini, paling menonjol.

Pada tahun 2014, jumlah penderita HIV/AIDS di kalangan PNS baru 13 orang. Artinya kurang dari dua tahun, jumlah penderita ketambahan 9 orang.

Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Gorontalo memprediksi puluhan ribuan warga berpotensi terjangkit HIV/AIDS.

Sekretaris KPA Provinsi Gorontalo DR Irwan S.Km, M.Kes mengatakan, kondisi sebenarnya di lapangan, penderita HIV-AIDS di Gorontalo ini bisa lebih besar dari data yang ada.

“Perbandingan kita, di provinsi Sulawesi utara, angka penderita HIV-AIDS yang terdeteksi berkisar 2 ribu penderita, sementara di Provinsi Sulawesi tengah berkisar 1000 penderita, Polemik yang terjadi sekarang adalah, terkadang seorang penerita HIV-AIDS merasa canggung untuk membuka diri, karena takut dengan perlakuan diskriminatif yang akan diterimanya jika ketahuan menderita HIV/AIDS.”ujarnya.

Irwan menuturkan, fenomena AIDS ibaratnya gunung es, yang lancip dipermukaan namun melebar di bawah. Indeks penyebaran AIDS sendiri kata Irwan bisa berkisar satu berbanding seratus.

“Artinya, satu orang penderita bisa berpotensi menularkan AIDS kepada 100 orang dari interaksi yang dilaksanakannya, sementara jika kita angkakan, di Gorontalo terdeteksi 237 penderita HIV-AIDS (data KPA per november), dikalikan seratus, maka terdapat sekitar 23.700 warga yang berpotensi terinfeksi,”terangnya.

Data yang ada, kata Irwan, usia penderita AIDS di Gorontalo banyak 87 persennya adalah usia produktif dengan rentang usia 17-40 tahun.

“Penyebabnya yang paling banyak adalah perilaku seks bebas, dan penggunaan narkoba suntik, AIDS di Provinsi Gorontalo pun telah merambah lintas kalangan mulai dari ASN, TNI/Polri, Ibu Rumah Tangga, bahkan ada juga Balita,”ungkapnya.

KPA sendiri, terkadang sedikit merasa kesulitan dalam mendeteksi penderita HIV-AIDS karena perilaku tertutup mereka yang takut dengan stigma serta diskriminasi sosial.

“Sejauh ini kita mengetahui ada kasus HIV-AIDS jika ada warga yang melaksanakan donor darah, atau hasil medis dari rumah sakit, disamping pemeriksaan HIV AIDS sendiri,” ujarnya.

Share

Leave a Comment