5 Ribu Lulusan SMU-SMK Nganggur , Tak Kuliah plus Belum Miliki Pekerjaan


Hargo.co.id BOTUPINGGE – Seiring dengan bertambahnya jumlah kelulusan siswa di tingkat SMU, SMK, MA sederajat dari tahun-ketahun. Jumlah pengangguran di Provinsi Gorontalo juga ikut mengalami peningkatan signifikan. Tahun ini, tercatat sebanyak 5 Ribu Lulusan SMU, SMK, MA sederajat pengangguran.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo Weni Liputo saat mewisuda 64 lulusan Politeknik Gorontalo Kamis(3/11), jumlah lulusan Perguruan Tinggi di Gorontalo setiap tahunnya mencapai 42 Ribu lulusan.

Sayangnya dari total lulusan itu diakui Weni sebagian besar pelajar yang berasal dari luar daerah. Padahal, jika sesuai data Diknas Provinsi, setiap tahunnya lulusan pelajar SMA sederajat yang ada di Gorontalo bisa mencapai 15 Ribu lulusan.

Namun, lagi-lagi itu pun tidak semua yang lanjut mengenyam Pendidikan ke 14 Perguruan Tinggi yang ada di dalam daerah. ” Setiap tahun ada 15 Ribu lulusan Pelajar SMA sederajat tapi yang lanjut kuliah cuma sekitar Delapan Ribu saja,”sesalnya.

Sehingga disadarinya masih ada sisa lulusan pelajar SMA sederajat sekitar minimal 4-5 Ribu lagi yang tidak tergarap dan kini masih menganggur. Kondisi itu menjadi Pekerjaan Rumah(PR) yang harus segera diatasi sehingga Weni mengaku akan berupaya gencarnya mendorong pelajar untuk lanjut kuliah.

Bagaimana tidak, sangat pesimis jika hal itu diabaikan apalagi menghadapi era Globalisasi saat ini. Weni pun sadar akan tantangan pasar bebas itu untuk bagaimana mengarahkan pelajar lanjut ke Pendidikan Advokasi.

Sebab menurutnya kedepan yang dituntut dari lulusan itu adalah tenaga terampil. Sehingganya upaya Pemerintah Pusat menyiapkan lulusan pelajar untuk menghadapi tantangan pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean(MEA) nampaknya langsung direspon cepat oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Langkah itu pun mulai dipersiapkannya pada saat membutuhkan tenaga pegawai maka yang diutamakan adalah lulusan yang punya sertifikat keahlian.

” Kami upayakan tahun depan itu supaya lulusan itu sudah ada sertifikasi keahlian sehingga itu saat ia akan melamar pekerjaan maka bukan Ijazah tapi yang perlu adalah sertifikasi keahliannya, “ujar Weni Liputo.

Weni Beralasan Prospek dari pada Pendidikan Advokasi diera Globalisasi. Dimana nanti yang berperan adalah lulusan Advokasi mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja,apalagi sebagai penggerak pembuka lapangan pekerjaan dan bukan jadi penonton.

Begitu juga menjawab itu semua Weni tambah lagi jadi tantangan juga adalah bagaimana menyediakan tenaga guru juga. Sebab saat ini dari data Nasional menurutnya guru SMA saja saat ini 40 persen hanya lebih diback up oleh Guru Swasta atau Honor.

” Sementara guru Produktif saja kita hanya memiliki 20 Persen. Padahal kekuranga sekitar 200 orang jadi kita akan ambil dari lulusan yang punya sertifikat keahlian sebagai guru, “Pungkasnya.

Sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi pengangguran khususnya di Kabupaten Gorontalo (Kabgor), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Kabgor membuka peluang bagi pemuda untuk magang ke Jepang.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kepala Nakertrans Kabgor Muhtar Nuna kepada Gorontalo Post, dimana menurutnya peluang magang ke Jepang ini akan dibuka hingga November 2016.

“Dalam rangka penanggulangan pengangguran berbagai macam program perluasan dan penempatan serta pemberian kesempatan kerja kepada para pengangguran di Kabgor,” jelasnya.

Lanjut dikatakan oleh Muhtar Nuna, dalam program pemagangan ini ada 2 nilai tambah yang didapatkan yakni pertama, para pengangguran ini bisa mendapatkan pengetahuan, ketrampilan serta budaya kerja yang ada ditempat mereka melakukan Magang.

Kemudian yang kedua menurut Muhtar mereka akan mendapatkan insentif, upah dan biaya transport. Untuk persyaratan sendiri dijelaskan oleh Kadis Nakertrans, yakni pria berumur 19 tahun 6 bulan maksimal 26 saat tes seleksi, kemudian tinggi badan 160 CM dan berat.

“Untuk pendidikan minimal SMU sederajat kemudian tidak buta warna, tidak berkacamata dan bertato serta tidak bertindik atau bekas bertindik,” tambahnya.

Para magang ini dikatakan oleh Muhtar akan mendapatkan, jaminan asuransi 3 tahun selama berada di jepang, mendapatkan bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, mendapatkan uang paska magang sebesar Rp 65 juta hingga Rp 75 juta, dari kementrian ke tenaga kerjaan dan IM Jepang, serta beroleh kesempatan berlibur ke kota-kota besar selama berada di Jepang.

“Untuk fasilitas tempat tinggal mereka akan digratiskan. Mereka akan mendapatkan insentif sebesar Rp 20 – 30 juta perbulannya. Kita berupaya minimal dari 1 kecamatan dapat mengirimkan 1orang untuk mengikuti Magang ini,” jelasnya. (Ded/csr/hargo)

Share

Leave a Comment