Belum Ditemukan, Korban Hanyut Dicari Dengan Kekuatan Supranatural

Belum Ditemukan, Korban Hanyut Dicari Dengan Kekuatan Supranatural Proses pencarian korban tenggelam yang dilakukan Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD Kabgor, Babinsa, Polisi Air dan TNI AL, kemarin, (9/1). (foto: Istimewa)

Berita Terkait


Hargo.co.id ASPARAGA – Kondisi yang sudah gelap, memaksa Tim SAR gabungan untuk sementara waktu menghentikan pencarian terhadap Ahmad Palilati (23), warga Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo yang hanyut di Sungai Paguyaman, tadi malam, (9/1).

Dari sejak pagi hingga sore kemarin, pencarian tidak membuahkan hasil. Kondisi air yang keruh menjadi kendala bagi para penyelem yang diturunkan untuk mencari jasad korban di dasar sungai.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ahmad Palilati, hanyut terseret derasnya Sungai Paguyaman. Peristiwa itu terjadi setelah ia jatuh dari atas Bendungan.

Informasi sebelum ini menyebutkan, penyebab korban terjatuh lantaran mengatur gaya untuk berfoto selfie. Namun, pihak keluarga mengklarifikasi hal ini dan menyebut korban tidak jatuh dari atas bendungan.

Melainkan hanyut terseret saat mandi bersama tiga orang rekannya di sekitar pintu air bendungan.

Kemarin, proses pencarian korban yang dilakukan Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD Kabupaten Gorontalo, serta dibantu TNI angkatan Laut, Pol Air, dan warga sekitar.

Pencarian yang berlangsung mulai pukul 09.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita.  Dengan menggunakan 4 perahu karet, Tim menyisir sungai sejauh 17 Kilometer dari titik yang menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Rifal Ismail (27), warga sekitar yang juga ikut membantu pencarian mengatakan, derasnya air sungai begitu menyulitkan penyisiran di sekitar titik jatuhnya korban.

“Tim penyelam kesulitan mendekat bantalan bendungan. Selain arusnya deras, airnya juga keruh,” tutur Rifal.

Hal senada juga disampaikan Ronal Abubabar. Pria yang tercatat sebagai warga Desa Tiohu, Kecamatan Asparaga itu ikut membantu proses pencarian korban.

Menurutnya, meskipun tidak hujan, namun arus sungai cukup deras sehingga menyulitkan pencarian.

“Warga disini turun membantu tim mencari jasad korban, namun belum juga ketemu,” ujarnya.

Humas SAR Gorontalo, Afifudin Ilahude mengatakan, kendala utama dari pencarian ini adalah sangat keruhnya air sungai. Sehingga jarak pandang penyelam sangat terbatas.

“Kami menurunkan 2 penyelam dari Basarnas Gorontalo untuk mencari korban. Tapi karena Visibilitynya hanya 5-10 centimeter, jadi sulit melihat situasi di dasar sungai,” jelasnya.

Ia menambahkan, keruhnya air tersebut membuat penyelaman pun dihentikan dan dilanjutkan dengan penyisiran menggunakan perahu karet dan motor tempel.

“Hingga pukul 17.30 Wita, korban belum juga ditemukan. Karena sudah malam, jadi tim memutuskan kembali ke Posko. Pencarian akan dilanjutkan esok (hari ini,red),” ujarnya.

Kepala Desa Olimohulo Muhammad Latif mengatakan, selang dua hari ini, ia telah mengarahkan masyarakatnya melakukan pencarian korban yang tenggelam.

“Pencarian juga kita lakukan dengan penerawangan supranatural agar dapat membantu mengetahui letak jasad korban,” katanya.

Muhammad mengungkapkan, inisden ini sejatinya, bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya sudah ada korban pertama pada hari kedua bulan puasa 2010 silam.

Salah seorang warga dari desa seberang tenggelam di bendungan ini saat mandi.

“Bendungan ini memang ramai dikunjungi masyarakat. Boleh dikata alternatif wisata, karena alamnya yang indah serta didukung sungai yang membelah Gorontalo dan Boalemo.

Keindahan itulah yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah datang kesini untuk santai dan mengabadikan foto-foto keindahan alamnya,” tuturnya.

Muhammad mengungkapkan, Bendungan Asparaga tersebut mulai dibangun 2004 silam dan mengairi ribuan hektar sawah di Kabupaten Gorontalo tepatnya utamanya di Kecamatan Asparaga, Tolangohula, Boliyohuto dan Mootilango, dan sebagian di Kabupaten Boalemo tepatnya di Kecamatan Wonosari dan Paguyaman.

Terpisah, Fatmawati Husain (41), ibu kandung korban saat diwawancarai mengatakan, keluarga sangat berharap, anak sulungnya itu secepatnya ditemukan.

Fatmawati mengaku sangat sedih. Ia tak menyangka, kejadian naas itu bisa menimpa buah hatinya tersebut.

“Sebelum hanyut, anak itu pergi mengantar temannya ke Bongo tanpa sepengetahuan saya. Karena dia tahu saya pasti tidak akan mengizinkannya,” tutur Fatmawati.(tr-55/tr-30/hargo)

Share

Leave a Comment