Bendungan Pilohayanga Ambruk, 1.300 Ha Sawah di Telaga Terancam Kering

Bendungan Pilohayanga Ambruk, 1.300 Ha Sawah di Telaga Terancam Kering Bendungan Pilohayanga di Desa Suka Damai, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango ambruk, Selasa (1/11). Bendungan tersebut sudah lama mengalami rusak parah. (FOTO CAISAR/GORONTALO POST)

Berita Terkait


LIMBOTO, Hargo.co.id — Lahan pertanian di Gorontalo kembali terancam.

Setelah kurang lebih 3.811 hektar lahan sawah dan jagung di Kabupaten Gorontalo terendam banjir.

Kini 1.300 hektar lahan persawahan lainnya di wilayah Kecamatan Telaga Cs terancam tak akan dapat pasokan air.

Ini akibat ambruknya Bendungan Pilohayanga yang menjadi sumber air di areal persawahan itu.

Pantauan Gorontalo Post di lokasi bendungan di Desa Suka Damai, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Selasa (1/11), konstruksi Bendungan Pilohayanga yang sudah tak lagi utuh itu, kini semakin bertambah parah.

Kerusakan bendungan berada di sekitar area pintu air bendungan yang ada di sisi barat.

Kondisi demikian cukup membahayakan, sebab jebolnya badan mercu bendung itu mengancam ambruknya juga pintu air. Jika hal itu dibiarkan, maka dalam hitungan hari saja pada musim penghujan ini, Bendungan Pilohayanga bakal rata.

Selain itu, di lokasi, kini cukup banyak sampah yang menyangkut dan pasir hingga puing-puing pondasi bebatuan berserakan di dasar sungai.

Acan Atume, bocah 9 tahun, warga Desa Suka Damai mengaku menjadi saksi bersama temannya saat kejadian awal runtuhnya badan bendungan.

Dimana diceritakannya, pada Rabu sore pekan lalu, ia bersama dengan sejumlah temannya sedang asyik memanfaatkan hujan keras untuk berenang sembari bermain di lokasi bendungan. Saat akan melompat di pintu air, Acan bersama temannya mengaku mendengar bunyi retakan tepat berada di tiang atap pintu air.

“Baru melompat torang dengar bunyi retakan prak-prak di tiang pintu air, torang pas naik tidak lama cuma berapa menit langsung bludar.

Saat kejadian lihat ada sebuah batang kayu pohon besar yang juga baterjang kaki pintu air, ” ujarnya sembari bersyukur tidak menimpa ia bersama teman-temannya.

Seketika orang ramai berdatangan melihat luapan air akibat ambruknya bendungan Pilohayanga ini.

Saat itu juga air menyapu habis kolam yang berisi ikan Nila di kawasan tersebut. Beruntung lahan pertanian lain tidak kena dampaknya.

Kepala Dusun (Kadus) III di Desa Suka Damai, Hisam Al Bakir mengaku kejadian tersebut langsung dilaporkan ke semua pihak terkait.

Bahkan kondisi lahan pertanian atau fasilitas lainnya dipastikannya tidak ada yang kena dampaknya meski hanya kolam ikan milik UPTD Balai ikan tawar yang rata.

Menurutnya, bendungan tersebut sudah berusia kurang lebih 30 tahun lebih atau dibangun perkiraan sejak 1982.

“Kan sudah usang pak, sudah 30 tahun sejak 1982 kalau tidak salah di bangun. Jadi semakin muda hancur, apalagi kalau hujan deras,” ungkapnya.

Lebih lanjut Hisam menjelaskan, sebelum ambruk, beberapa bulan sebelumnya Bendungan Pilohayanga sudah rusak parah bagian badannya.

“Bendungan tinggal diperkuat oleh beronjong, air malah membuat jalur baru berada di dekat pintu air,” ujarnya.

Masih menurut Hisam, ambruknya Bendungan Pilohayanga ini akan mengancam Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo.

“Kalau tidak salah seribu lebih lahan yang bisa diairi. Itu ada tertulis juga di lokasi, ” ungkapnya. (wie/csr/tro/hargo)

Share

Leave a Comment