Dana BOS SD Wonosari Disunat?


Hargo.co.id GORONTALO – Sejumlah orang tua murid SD Negeri 20 Wonosari, Kabupaten Boalemo menuntut transparansi kepala sekolah, terkait penggunaan dana Bantuan Operasional Siswa (BOS). Pasalnya, penggunaan dana BOS diduga tidak ada transparansi.

Bahkan Bendahara sekolah pun mengaku tak pernah memegang uang dana Bos. Seluruhnya dipegang oleh kepala sekolah. Diduga dana BOS tersebut telah terjadi penyimpanangan.

Salma Ahmad Harun selaku bendahara di sekolah tersebut mengaku terpaksa mengundurkan diri dari jabatanya lantaran tidak pernah dilibatkan oleh kepala sekolah mengurusi dana Bos. Ia mengaku tak pernah memegang uang itu.

Sementara para orang tua Murid menyoal dan sering mempertanyakan tentang penggunaan dana bos sekolah.
Dana BOS SD Negeri 20 Wonosari untuk tahun ini totalnya sebanyak Rp 23 juta per triwulan. Yang lebih memiriskan lagi, dana bos yang sejatinya di terimakan sebesar Rp 400 ribu untuk para siswa, namun yang direalisasi oleh sekolah hanya Rp 200 ribu. Diduga dana tersebtu telah disunat oleh kepala sekolah.

Huzaimi, salah satu orang tua murid SD Negeri 20 Wonosari menyoal hal itu ketika diwawancarai Gorontalo Post, baru-baru ini.  Menurutnya, sejatinya pihak sekolah ada keterbukaan dengan para orang tua siswa di dalam pengolaan dana tersebut, sehingga tak menjadi unsur kecurigaan bagi para orang tua.

“Sudah dari dulu seperti ini pak, dan kami minta agar kepala sekolah harus diganti,” ungkap Zaimi.
Lebih lanjut Zaimi Menjelaskan, parahnya ketiaka siswa terlambat dan menunggag untuk memebayar komite sekolah, maka terpaksa siswa yang bersangkutan akan di permalukan dio depan teman-temanya pada pelaksanaan upacara,”biasanya saya pe anak so tidak mau skolah lantaran malu pihak solah jaga beken bagitu kasiang, lantaran malo sama teman-temanya,”ujarnya.

Sama halnya yang di katakan Salma Harun, saat diwawancarai Gorontalo Post, mengatakan, selama menjabat sebagai bendahara selama 4 tahun dirinya sama sekali tak mengelolah atau memegang uang sekolah, melainkann uang ¬†tersebut di teima langsung oleh kepala sekolah, bahkan dirinya tak tahu harus berbuat apa lagi, seringkali orang tua terus mengeluh ke pada dirinya,”terpaksa saya memundurkan diri, dari pada saya yang jadi sasaranya,” ujarnya.

Ketika dikonfirmasi Kepala SDN 20 Wonosari Risna Potale, membantah jika telah terjadi penyimpanangan dana Bos. Menurut Risna, sejak tahun 20007 ia menjabat Kepsek SD Wonosari sekaligus penanggung jawab dana BOS yang masuk ke sekolah.

Dalam pengelolaan dana bos memang diterima per triwulan. Namun biasanya pihak sekolah mengambil dana tersebut setelah dua bulan kedepan usai pencairan. “Saya meresa tidak menggunakan dana BOS dalam keperluan pribadi saya,”ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan Risna pula, sama sekali tidak ada penyimpangan dana di sekolah. Total per siswa sudah diberikan sesuai ketentuan.

Risna juga mengungkapkan, terkadang jika dana Bos tertunda maka yang menalangi biaya operasional sekolah dengan menggunakan uang pribadinya. Nanti setelah dana bos tersebut cair, baru uang pribadinya itu akan diganti.

Kepala Cabang Diknas Wonosari Riton Abdulah mengatakan pihaknya telah turun langsung memeriksa pengelolaan dana BOS SD Wonosari sesuai laporan masyarakat. Namun setelah diperiksa ternyata pengelolaan dana bos tersebut sudah sesuai prosedur. (tr-48/hargo)

Share

Leave a Comment