Dilarang Warga, NKRI Diminta Tak Kampanye di Ponelo

Dilarang Warga, NKRI Diminta Tak Kampanye di Ponelo Masyarakat Kwandang mencegat rombongan NKRI karena mengira tak akan kampanye di ibukota Gorut itu. (Foto Tim Pemenangan NKRI)

Berita Terkait


GORONTALO, Hargo.co.id – Melakoni kampanye terakhir di Zona 2 (Kabupaten Gorontalo-Gorontalo Utara) untuk putaran pertama, pasangan Rusli Habibie-Idris Rahim diminta untuk tak kampanye di Ponelo. Bahkan bendera Parpol pendukung selain bendera Partai Golkar dicabut warga setempat.

Tanda-tanda bahwa pasangan Nyata Karya Rusli-Idris (NKRI) akan mendapat ‘masalah’ di Ponelo Kepulauan sudah nampak ketika masih bereda di Kwandang. Yakni, masyarakat Kwandang mencegat pasangan NKRI ketika iring-iringan kendaraan mereka melintas di ibukota Gorontalo Utara (Gorut) itu.

Informasi yang berhasil dihimpun, warga Kwandang mencegat rombongan ini karena mengira tak akan kampanye di wilayah tersebut. Masyarakat Kwandang meminta agar NKRI turun berkampanye di Kwandang sebelum menyeberang ke Pulau Ponelo.

“Memang dalam agenda NKRI akan kampanye di Kwandang sebelum ke Pulau Ponelo. Namun, tak semua masyarakat tahu jika ada agenda seperti itu. Mereka hanya tahu bahwa NKRI akan ke Pulau Ponelo. Namun semuanya terjawab setelah NKRI blusukan dan kampanye. Bahkan NKRI sempat santap siang di Kwandang,” jelas Sekretaris Tim Pemenangan, Ghalib Lahidjun.

Usai itu, NKRI melanjutkan perjalanan dengan perahu ke Pulau Ponelo, dan lagi-lagi menemui peristiwa di luar dugaan. Masyarakat setempat mencabut semua bendera Parpol selain milik Partai Golkar yang terpasang di lokasi kampanye. Anggapan mereka bahwa yang boleh memasang bendara hanya Partai Golkar sebagai pengusung pasangan NKRI.

“Kami terpaksa menjelaskan bahwa selain Partai Golkar, pasangan NKRI juga diusung dan didukung Partai Demokrat, Partai Perindo dan PKPI. Itu dapat dimengerti dan mereka kembali memasang bendera ketiga Parpol tersebut,” ungkap Ghalib Lahidjun.

Bukan hanya sampai di situ. Rombongan NKRI kembali dikejutkan dengan pernyataan warga yang melarang kampanye. Melarang lakukan dialogis dan berorasi politik.

“Kami hanya ingin menyanyi bersama pasangan NKRI. Tak perlu lagi kampanye, karena program NKRI sudah jelas, sudah dirasakan, dan bukan hanya sebatas janji. Tidak perlu ragu lagi, masyarakat di Pulau Ponelo sudah banyak merasakan program NKRI,” kata salah seorang masyarakat yang didukung warga lainnya.

Namun karena ini sebuah keharusan, maka NKRI tetap kampanye. Tentu dengan memberi pengertian kepada masyarakat. Termasuk dilakukannya dialogis antara Jurkam NKRI dengan masyarakat setempat. (jdm/hargo)

Share

Leave a Comment