Dua Desa di Boalemo Krisis Air Bersih

Dua Desa di Boalemo Krisis Air Bersih Kondisi Warga perumahan Transmigrasi di bukit nawacita Desa Lito Kecamatan Paguyaman Pantai yang kriris air bersih. ( Foto Felix Idrus / Gorontalo Post)

Berita Terkait


Hargo.co.id BOALEMO – Dua desa di Kecamatan Paguyaman pantai Kabupaten Boalemo kiris air bersih yakni Desa Lito dan Desa Bangga. Hal ini patut mendapat perhatian pemerintah demi untuk kesejahteraan masyarakay setempat.

Pantauan Gorontalo Post, seperti warga yang tinggal di perumahan transmigrasi Desa Lito yang mengalami krisis air bersih terpaksa harus mengambil air dari pemukiman penduduk yang berada di dataran rendah untuk diangkut ke pemukiman transmigrasi yang berada di puncak bukit.

Sebagaimana disampaikan oleh Eko Sucipto Prasetyo (31) salah seorang warga transmigran saat berbincang – bincang dengan Gorontalo Post mengatakan, untuk mendapatkan air bersih di dataran rendah harus ditempuh dengan jarak 2 kilometer.

Untuk mengangkut ke puncak bukti harus menggunakan kendaraan berupa mobil atau sepeda motor.

“Memang untuk dipemukiman transmigrasi ada wadah bak penampungan air, hanya saja saat ini bak itu sudah tidak memiliki air karena mesin pendorong air sudah tidak berfungsi,”kata Sucipto.

Untuk mengatasi krisis air ini pemerintah memang telah menyediakan mobil untuk menyuplai air bersih.

Namun, hanya berlangsung kurang lebih dua bulan, suplai air itu sudah tidak ada lagi. Padahal diakui Sucipto, warga yang bermukim di perumahan transmigrasi berjumlah ratusan kepala keluarga (KK).

“Dari perhitungan kami tercatat sudah beberapa bulan tidak lagi mendapatkan stok air bersih yang disuplai menggunakan mobil oleh pemerintah. Oleh karenannya kami harus mengangkut air dari dari rumah – rumah warga untuk dibawa ke rumah kami,” ungkapnya.

Kesulitan air bersih diakui Eko berlangsung kurang lebih 3 bulan. Sehingga menurutnya menjadi persoalan mendasar yang harus diperhatikan oleh pemerintah.

“Biasanya kami menampung air hujan di tong sebagai stok kebutuhan keseharian kami, akan tetapi kalau kemarau pasti akan sulit air bersih. Sementara air menjadi sumber kehidupan kami. Aspirasi ini sudah kami sampaikan melalui kegiatan reses Anggota DPRD sehingga kami menunggu tindak lanjutnya dari DPRD maupun pemerintah daerah,” ungkap warga asal Banyuwangi Provinsi Jawa Timur itu.

Kadis Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Boalemo Abdullah Masalubu dikonfirmasi visa seluler belum terhubung hingga berita ini diturunkan.

Sementara itu di Desa Bangga Kecamatan Paguyaman Pantai juga yang paling parah kriris air bersih.

Menurut Zakir Husain warga setempat kepada awak koran ini mengatakan, untuk mendapatkan air bersih pihaknya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 150 ribu perdrum untuk sewa kendaraan yang mengangkut air tersebut hingga ke pemukiman warga.

“Jadi air yang kami beli Rp 150 ribu perdrum ini hanya bisa sampai empat hari saja sudah habis. Untuk itu kami minta pemerintah tidak menutup mata melainkan perhatikan kami warga yang sulit air bersih seperti ini,”harapnya. (Tr-30/hargo)

Share

Leave a Comment