Dusun Guyub Bromo Wakili Homestay Desa Wisata BTS Jatim


Hargo.co.id JAKARTA – CEO Message ke-15 Menpar Arief Yahya menguliti Homestay Desa Wisata. Rumah wisata yang dibangun, dimiliki dan dikelola oleh masyarakat, sehingga mereka bisa langsung memperoleh benefit.

Selain itu, jumlahnya bisa massif di semua destinasi yang sedang dikembangkan oleh Kemenpar RI. Salah satu syarat homestay desa wisata itu adalah desainnya harus mengacu pada arsitektur nusantara yang bakal direkomendasi oleh Tim Percepatan 10 Bali Baru yang diketuai Hiramsyah Sambudy Thaib.

Rintisan action sudah dilakukan sejak Oktober 2016 lalu, dengan Sayembara Desain Arsitektur Nusantara untuk homestay. Hasilnya pun sudah diketahui public, juga dipublikasikan bentuk visualnya. Ada 30 pemenang, juara 1-2-3 dari 10 desain yang dilombakan. Desain itulah yang akan dijadikan acuan pembangunan homestay di tanah air. Ada ciri khas dan sentuhan budaya lokal yang mewakili suasana kearifan nusantara di sana.

Salah satunya, yang dibuat Verena Rafaela dkk. Bersama Bayu Arie Putranto, Ivana Anggraeni Pribadi, Lindung Bayu Kumara Tungga, Andhika Perdana Putra dan Tri Murdono, membuat karya berjudul Dusun Guyub Bromo, untuk destinasi BTS –Bromo Tengger Semeru—Jawa Timur.

Konsep desainnya tak kalah dengan Rumah Bolon di Sumatera Utara, Tongkonan di Toraja, atau rumah adat Bali dengan ornamen ukiran batu dan warna orange yang khas. Warna Indonesia-nya tetap terlihat. “Identitas dengan warna lokal tetap ditonjolkan. Desainnya diselaraskan dengan bangunan-bangunan rumah yang selaras dengan arsitektur Bromo-Tengger-Semeru,” ujar Ketua Tim Desain Guyub Bromo Verena Rafaela.

Desain interior maupun eksterior bangunannya disesuaikan lingkungan di sekitarnya. Tampilannya mengadopsi gaya rumah adat khas Suku Tengger, suku yang mendiami 38 desa di empat kabupaten di Jawa Timur, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Pasuruan. “Bromo merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Pulau Jawa. Warna Jawa-nya harus ditonjolkan,” kata Verena.

Konsep Dusun Guyub pun tercipta. Ruang-ruang terbuka ikut di-create. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menciptakan interaksi antara penduduk dan wisatawan. Zona ruang dalam dibagi secara vertikal agar pemilik dan tamu bisa memiliki privasi masing-masing. Kamar mandi dan dapur juga dipisahkan agar higienis. “Dapur juga bisa difungsikan sebagai ruang guyub. Bisa dijadikan warung pemilik rumah,” ujar Verena.

Share

Leave a Comment