Jadi Tersangka, Oknum Kontraktor Tumingkas


Hargo.co.id TILAMUTA – Setelah ditetapkan menjadi tersangka pada dugaan korupsi pembangunan tanggul pemecah ombak (Breakwater) di Desa Tabulo Selatan, Mananggu, Boalemo Tahun 2013, sang kontraktor berinisial IA langsung “menghilang” alias melarikan diri.

“Kita sudah koordinasi dengan Kejari Marisa atas keberadaan tersangka IA. Tapi sampai dengan saat ini (kemarin,red) belum ada informasi,” kata Kasi Pidana Khusus Kejari Tilamuta, M Rachmadhani, kemarin, Jumat (25/11).

Adapun kronologis dari dugaan korupsi tersebut, tersangka IA selaku direktur CV Marlboro dan CV Adha Elektrik yang ditunjuk sebagai penyedia barang dan jasa atas pekerjaan pembangunan tanggul pengaman pantai di Desa Tabulo Selatan.

Adapun nilai dua paket proyek tersebut sebesar Rp 199,7 Juta dan proyek lanjutan pekerjaan tanggul sebesar Rp 199 Juta. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan oleh ahli dari Fakultas Teknik Universitas Gorontalo (UG), terindikasi pekerjaan tanggul tidak sesuai bestek.

Awalnya Kejari Tilamuta menetapkan tersangka berinisial SM yang bertugas sebagai pengawas lapangan. SM diduga terlibag karena fungsi pengawasan tidak maksimal dan tidak cermat.

Bahkan menyetujui pekerjaan yang tidak sesuai bastek sehingga pencairan akhirnya terealisasi. SM pun sudah mendekam di sel tahanan pada Oktober 2016 dan kini sudah memasuki tahap persidangan di Pengadilan Tipikor Gorontalo.

Namun, saat IA disusul menjadi tersangka, sang kontraktor yang merupakan warga Marisa, Pohuwato ini sudah melarikan diri sekitar 2 pekan sebelumnya.

“Kepada pihak-pihak yang melihat yang bersangkutan agar melaporkan kepada kami,” kata Rachmadhani lagi.

Dia menambahkan, pekerjaan tanggul pemecah ombak terindikasi mengalami kegagalan bangunan berdasarkan hasil dari tim ahli dari Fakultas Teknik UG.

“Dari aspek fisiologis, masyarakat merasakan ketidaknyamanan untuk menjalani aktivitas dengan terjadinya kegagalan bangunan tanggul pemecah ombak. Demikian juga dari aspek sosial, teknik dan hukum mengalami hal yang sama. Demikian dari keterangan ahli, sehingga proyek ini dikategorikan kegagalan bangunan,” katanya.

Rachmadhani juga tidak menampik, dari lanjutan pemeriksaan akan bertambah tersangka baru.

“Kasus ini masih terus berjalan dan tidak menutupkemungkinan akan melibatkan pihak-pihak lain dalam pekerjaan proyek ini,” pungkasnya.

Sebelumnya kasus ini menuai sorotan dari berbagai pihak, salah satunya dari Rahmat Mamonto. Menurutnya, ada kejanggalan dalam penanganan kasus ini.

Salah satunya yakni pihak penyidik kejaksaan hanya menyeret pengawasnya Sunaryo Mahanggi ke pengadilan. Padahal, pengawas tinggal menerima perintah untuk mengawasi proyek tersebut.

“Biasanya dalam penangan kasus korupsi itu penyidik kejaksaan selalu menetapkan tersangka berjamaah mulai dari kontraktor, PPK dan PPTK hingga KPA karena mereka yang paling bertanggungjawab. Tapi ini hanya pengawas jadi tersangka. Kalaupun itu kontraktornya jadi tersangka, tapi sama aja bo’ong, kontraktornnya sudah kabur,”kata Rahmat.

Untuk itu Rahmat berharap agar hal ini beroleh perhatian dari pimpinan Kejati Gorontalo untuk meninjau kembali penanganan kasus ini lebih transparan dan mengedepankan prinsip keadilan.

“Kami juga berharap Hakim Tipikor yang menyidangkan kasus ini memintah JPU untuk memanggil dan memeriksa KPA,PPTK dan PPK dalam perkara ini,”tandasnya. (TR-30/roy/hargo)

Share

Leave a Comment