Kabgor Dilanda Banjir Terparah, Ini Penyebabnya


 

GORONTALO, Hargo.co.id – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Gorontalo tak lepas dari kerusakan hutan yang makin parah di daerah ini.

Kerusakan hutan dinilai menjadi penyumbang besar terjadinya bencana banjir dan longsor.

Di Provinsi Gorontalo, wilayah Kabupaten Gorontalo yang tingkat kerusakan hutanya paling kritis.

Dari total 100,9 ribu hektare luas area hutan di wilayah ini, hampir separuh telah beralih fungsi atau kurang lebih 44,9 ribu hektare.

Deforestasi merupakan proses penghilangan hutan alam dengan cara perambahan hutan seperti penebangan liar maupun legal, pembukaan lahan perkebunan oleh warga.

Termasuk alih fungsi area hutan untuk kepentingan lain, seperti lahan sawit dan hutan tanaman industri sehingga menjadi kawasan non hutan.

Sumbangan terbesar dari perubahan iklim yang terjadi saat ini diakibatkan oleh deforestasi.

“Illegal loging menjadi pemicu (kerusakan hutan). Tapi kawasan hutan bekas HPH yang tidak rehabilitasi juga menjadi penyebab hutan di daerah ini rusak,”ujar Kadis Kehutanan dan ESDM Provinsi Gorontalo Husen Husni, Minggu (30/10) kemarin.

Dari data yang diperoleh Gorontalo Post (grup hargo.co.id), total kawasan hutan di Provinsi Gorontalo mencapai 827,7 ribu hektare, namun kawasan hutan yang deforestasi sudah mencapa 142,6 ribu hektare, atau tersisah 685 ribu hektare.

Kondisi ini jelas harus segera mendapat perhatian. Selain menindak tegas pelaku perusakan hutan, program rehabilitasi seperti penghijauan juga mendesak dilakukan.

“Penindakan sudah dilakukan. Bahkan baru-baru ini tim Kementerian Kehutanan dan Mabes Polri melakukan penindakan di lapangan, termasuk yang di cagar alam tanjung panjang Pohuwato,”ujar Husen Husni.

Bicara penyelamatan hutan, lanjut Husen Husni butuh keseriusan bersama, sebab dampak kerusakan hutan sangat jelas. Yakni bencana alam banjir dan tanah longsor.

Terpisah, pegiat lingkungan Rahman Dako menyebutkan, banjir di Limboto, Kabupaten Gorontalo dipicu karena kawasan daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Danau Limboto sudah sangat kritis.

Share

Leave a Comment