Kembangkan Potensi Energi Nuklir, Dukungan Gorontalo Rendah

Kembangkan Potensi Energi Nuklir, Dukungan Gorontalo Rendah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Rusia di Turki. PLTN serupa akan dibangun Rusia di Batam dalam waktu dekat. Foto: sigmalive.com

Berita Terkait


 

JAKARTA, hargo.co.id – Kendati Gorontalo disebut-sebut sebagai salah satu daerah yang akan mengembangkan energi nuklir sebagai pembangkit listrik.

Namun dukungan masyarakat Gorontalo untuk program ini terbilang paling rendah dibanding provinsi lainya di Indonesia.

Analisis hasul riset PT pro ultima, Angga Yuni Mantara menyebut, dukungan Gorontalo hanya 47 persen, dukungan tertinggi dari Sulawesi Utara 98 persen, disusul Aceh dan Jambi masing-masing 95 persen.

Secara keseluruhan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) melansir hasil survei dukungan masyarakat terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) 2016, adalah tren positif. Untuk menjalankan survei tahunan itu, Batan menggandeng PT Pro Ultima.

Koordinator Analisis Hasil Riset PT Pro Ultima Angga Yuni Mantara menyatakan, responden dalam survei itu mencapai 4.000 orang di 34 provinsi.

’’Hasilnya, 77,53 persen responden menyampaikan dukungan pembangunan PLTN,’’ jelasnya di kantor Batan kemarin.

Nilai itu melanjutkan tren positif pengukuran tahun sebelumnya. Pada survei 2015, dukungan masyarakat mencapai 75,3 persen, kemudian pada 2014 (72 persen), 2013 (64,1 persen), dan 2012 (59,2 persen).

Ditinjau dari analisis alasan dukungan, alasan terbesar adalah PLTN bisa mengatasi masalah pemadaman listrik. Alasan berikutnya, PLTN diyakini bisa membuat harga listrik lebih murah dan menciptakan lapangan kerja baru.

Kepala Batan Djarot Sulitio Wisnubroto menuturkan, survei akan terus dilakukan secara rutin. ’

’Tujuannya, menyampaikan pesan kepada pemerintah bahwa masyarakat semakin mendukung pembangunan PLTN,’’ katanya. Dengan demikian, jika nanti pemerintah menetapkan go nuclear, sudah ada dasar dukungan masyarakat.

Dia menyatakan, nuklir memang menjadi pilihan energi terakhir. Namun, tidak berarti nuklir baru dijalankan ketika sumber energi fosil sudah habis. Menurut Djarot, pembangunan PLTN membutuhkan waktu lama sehingga hasilnya tidak bisa dimanfaatkan secepatnya.

Sebelumnya, Gorontalo dinilai memiliki potensi besar untuk dibangun pembangkit lisrtrik tenaga nuklir (PLTN). Jika ini terwujud, maka akan sama seperti Jepang, yang memanfaatkan nuklir sebagai pembangkit listrik.

Hal ini disampaikan pakar nuklir tanah air. Dr.Ir. Bakri Aribie, beberapa waktu lalu. Putra Gorontalo yang pernah menjabat Wakil Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), ini mengatakan, ia bahkan akan menggaet sejumlah investor ke Gorontalo untuk membangun PLTN.

Minimal kata Arbie, PLTN Gorontalo akan menghasilkan listrik sebesar 100 MW, dengan begitu alasan pemadaman listrik karena defisit tidak akan terjadi lagi.

Arbie mengaku telah meneliti Nuklir generasi ke-empat yang sejauh ini telah berkembang di Fukushima, Jepang. Untuk Gorontalo, kata Arbie, sudah cukup aman untuk nuklir generasi ke 3,5 atau hampir setara dengan teknologi Nuklir yang dikembangkan di Jepang.

“Akan ada investor yang akan saya bawa ke Gorontalo untuk memasang PLTN dengan kapasistas 100 MW. Kami ingin Gorontalo itu maju, makanya dengan ilmu yang saya miliki dan saya adalah orang Gorontalo. Saya punya keterpanggilan untuk membangun Gorontalo sebagai kota maju,” terang Bakrie Arbie. (jpg/hargo)

Share

Leave a Comment