Lima Hal Ini Melanggengkan Jalan Donald Trump Sebagai Presiden AS


Hargo.co.id – Berikut lima hal yang membuat Donald Trump memenangkan kursi presiden.

Bersaing dengan Hillary Clinton – Trump memang tidak sepopuler Clinton di dunia politik. Namun, popularitas itulah yang membuat perempuan 69 tahun tersebut bukan daya tarik bagi sebagian masyarakat. Sebab, sepak terjang Clinton sudah lumayan terbaca saat menjadi first lady (8 tahun), senator (8 tahun), dan menteri luar negeri (4 tahun).

Berdamai dengan Partainya – Saat semangatnya untuk berkampanye memuncak, Trump menyerang semua orang. Mulai keluarga besar Bush, Ketua DPR Paul Ryan, Mitt Romney, John McCain, hingga banyak tokoh Republik yang lain. Tetapi, pebisnis Manhattan itu bisa menyelesaikan nyaris semua perselisihannya dengan damai. Republik pun tidak punya alasan untuk berpaling darinya.

Selebriti – Sejak 2003, Trump menjadi host The Apprentice. Selama hampir satu dekade, dia muncul di layar kaca dan mencuri hati pemirsa lewat kalimat saktinya, ’’Anda dipecat!’’ Citra pemimpin yang tegas dan berkuasa itu melekat di benak rakyat. Sebagian masyarakat pun kadung percaya bahwa Trump adalah bos yang mumpuni.

Antitesis – Tren menurunnya jumlah pemilih berkulit putih tidak lantas membuat Trump mengabaikan kalangan tersebut. Ketika para pengamat politik menyebut kaum perempuan dan Hispanik sebagai target baru kampanye pilpres, Trump tetap setia menggalang dukungan kaum kulit putih. Pilihan Trump sangat tepat. Dia sukses memenangkan dukungan masyarakat kulit putih. Terutama kalangan pekerja atau yang bukan akademisi dan kelompok terpelajar.

Rasisme dan Nihilisme – Perangai Trump yang tidak baik dan cenderung mudah marah memang memicu protes dan kecaman dari berbagai kalangan. Khususnya kaum hawa, para imigran, warga keturunan Afrika, Hispanik, muslim, dan difabel.

Trump yang kontroversial memang membuat sebagian masyarakat membencinya. Namun, saat kontroversi tersebut diulas media, justru muncul kelompok yang simpati kepadanya. Sebab, pada kenyataannya, kekakuan ala Trump masih dibutuhkan di tengah masyarakat yang rasial dan diskriminatif.

Kekakuan itulah yang membuat kalangan religius jatuh cinta kepada Trump. Sebab, menurut Public Religion Research Institute, moral masyarakat AS telah berubah jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan 1950-an.

Media Mainstream – Jajak pendapat dan polling yang disebarluaskan media mainstream memberikan kemenangan kepada Clinton. ’’Sebab, media tidak menyuguhkan data riil, tapi yang sudah diolah menggunakan metodologi tertentu,’’ tegas Adam Hamdy, pembuat film dan penulis AS.

Seluruh hasil polling sengaja dirancang untuk kepentingan capres tertentu. Kali ini sebagian besar polling mengesankan Clinton akan bisa menggerakkan lebih banyak orang ketimbang Barack Obama empat tahun lalu. Faktanya, massa yang hadir dalam kampanye Clinton tidak sebanyak Obama. (NewYorkTimes/Guardian/Huffington Post/hep/c14/any/hg)

Share

Leave a Comment