Menengok Pedestrian Bantaran Sungai Bolango yang Patut Jadi Contoh


Dulunya Tempat Sampah, Kini Pusat Rekreasi

PESONA Bantaran Sungai Bolango di Kelurahan Donggala, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo berubah drastis. Dulunya lokasi tersebut identik dengan kumuh dan penuh sampah. Tetapi kini menjadi lokasi pedestrian dan pusat rekreasi.

RATNAWATI, Donggala

Sungai Bolango merupakan salah satu sungai yang melintasi wilayah Kota Gorontalo. Sungai yang berhulu di Bone Bolango tersebut membelah beberapa kelurahan dan kecamatan. Di antaranya Kelurahan Donggala-Siendeng, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.

Keberadaan Sungai Bolango memiliki peranan strategis bagi masyarakat Gorontalo. Selain sumber air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Gorontalo, sebagian masyarakat menggantungkan hidup di Sungai Bolango.

Sayangnya, kepedulian serta kesadaran warga kelestarian lingkungan termasuk menjaga kebersihan aliran Sungai Bulango masih rendah. Akibatnya, sepanjang bantaran Sungai Bolango kerap dijumpai tumpukan sampah. Mulai dari sampah ranting pohon, limbah rumah tangga hingga sampah plastik.

Setelah sekian lama kondisi yang memprihatinkan itu, bantaran Sungai Bolango perlahan mulai berubah. Seperti di Kelurahan Donggala-Siendeng. Pemandangan yang dulunya kumuh dan penuh sampah tergantikan pemandangan baru.

Tertata apik dan bersih. Sisi kiri sungai Bolango kini berubah menjadi lokasi pedestrian yang baru. Ada trotoar khusus pejalan kaki sepanjang 1 kilometer, yang dicat berwana merah. Di sisi lainnya terdapat pagar besi yang dicat berwarna warni.

Ada warna merah, biru dan warna kuning. Pagar ini menjadi pemisah antara sungai dan rumah warga. Lokasi pedestrian semakin manis dengan adanya pot-pot bunga di sepanjang jalan. Setiap tiga meter teradap satu pot yang dihiasi beragam bunga-bunga.

Menyusuri sungai semakin seru di kala malam hari. Sungai yang gelap berubah menjadi gemerlap dengan penempatan lampu-lampu yang menghiasi bantaran sungai.

Puluhan mercusuar mengitari bantaran sungai, dan lampu-lampu dari rumah warga memberi keteduhan sekaligus kesan nyaman. Membuat setiap pengunjung ingin berlama-lama menyusuri bantaran sungai.

Lokasi pedestrian ini merupakan mega proyek yang dikembangkan Balai Wilayah Sungai Sulawesi II bekerjasama dengan Pemerintah Kota Gorontalo sejak 2013 lalu. Proyek terus menelan angaran cukup besar.

Hal itu dikarenakan harus dilakukan pembebasan lahan maupun untuk pelebaran sungai, serta pembangunan tanggul.

Namun hasilnya spektakuler. Selain mempercantik tampilan Kota Gorontalo, juga untuk meminimalisir dampak banjir di Kota Gorontalo, sebab selain dibuat pedestrian (pejalan kaki), sungai Bolango juga dikeruk, diperlebar dan tanggulnya diperbaiki.

Lokasi tersebut baru separo dari proyek yang direncanakan. Pedestrian yang sama akan dibangun hingga di jembatan Potanga Gorontalo, dan akan terus diperjuangkan hingga di Dungingi.

Total untuk proyek awal tersebut sebanyak 436 harus dibebaskan, dengan total luas 33,770 meter kubik.

Masing-masing melintasi Kelurahan Siendeng sebanyak 101 lahan, kelurahan Tenda sebanyak 183 lahan, Kelurahan Biawu sebanyak 75 lahan, dan kelurahan Biawo sebanyak 77 lahan. Untuk pembebasan lahan tahap pertama tersebut mengeruk anggaran sebesar Rp 23,103 miliar yang dibayarkan untuk 307 lahan.

Memang ada beberapa sekitar 140 lahan warga yang belum terbayarkan pada 2015 lalu. Namun pembayarannya sudah mulai dilakukan tahun ini, dengan menggunakan anggaran Rp 13,6miliar.

Pengerjaan mulai dilakukan kembali diawal tahun depan dengan menelan anggaran Rp 350miliar hingga jembatan Potanga.

Walikota Marten Taha mengatakan proyek pelebaran sungai tersebut memang dirancang untuk menjadi lokasi wisata baru yang disebut City form River.

Selain menawarkan pemandangan cantik di tepian sungai, juga akan dikembangkan menjadi kawasan kuliner daerah.

“Ini akan terus kita kembangkan, menjadi lokasi rekreasi warga, dan juga menjadi lokasi wisata kuliner daerah. Tetapi itu akan terlihat setelah semua pengerjaan ini selesai,” kata Marten Taha.

Memang diakui Marten sejak memulai proyek tersebut banyak suka duka yang dialami pemerintah, terutama berhadapan dengan warga yang harus direlokasi dari tempatnya.

Bahkan banyak juga bangunan yang terpaksa dibongkar. Hanya saja, dampak dari pembangunan sangat penting, dan kini berlahan sudah dinikmati masyarakat.

“Kita coba membuat suasana baru di Kota Gorontalo, juga ini sebagai antisipasi kita terhadap banjir,” tambahnya. (***/hargo)

Share

Leave a Comment