Numpang di Kolong Rumah, Mebelair Rusak, Kelas 1,2,3 Gabung Sekaligus

Numpang di Kolong Rumah, Mebelair Rusak, Kelas 1,2,3 Gabung Sekaligus Minim fasilitas, sampai-sampai MI Assabirin di Desa Bubaa, Kecamatan Paguyaman tempatnya numpang di kolong rumah warga. ( Foto Felix Idrus / Gorontalo Post).

Berita Terkait


 

Program layanan pendidikan yang digencarkan pemerintah Kabupaten Boalemo belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Seperti halnya masyarakat yang berada di Desa Bubaa, Kecamatan Paguyaman Pantai. Untuk jenjang sekolah dasar/sederajat saja, tempatnya harus meminjam kolong rumah masyarakat

Felix Idrus – Paguyaman Pantai

MATAHARI pagi bersinar cerah di timur Teluk Tomini, suasana di Paguyaman Pantai yang lokasinya berada di pesisir itu riuh dengan aktivitas warga.

Sebagian pergi melaut, lainnya ke kebun. Di pagi cerah itu, Muzakir Husain terlihat rapi dengan pakaian terhormat bergegas pergi ke tempat kerjanya untuk mengajar anak-anak didik. Ia pun tiba di salah satu rumah panggung milik warga setempat.

“Inilah sekolah yang saya maksud itu,” ujar Muzarin sambil menunjuk kolong rumah warga, ketika di wawancarai awak media, Rabu, (30/11).

Di kolong rumah berukuran 5 x 7 meter itu, Madrasyah Ibtidaiyah (MI) Assabirin yang dipimpinnya Muzairin setiap hari melaksanakan pendidikan untuk anak-anak di desa setempat.

MI Assabirin yang terletak di Desa Buba’a, Kecamatan Paguyaman Pantai sangat memperihatinkan. Peralatan untuk mendukung proses belajar mengajar sangat terbatas.

Bahkan fasilitas berupa meubiler (kursi dan meja) dalam kondisi rusak. Saat ini jumlah siswanya baru 13 orang.

Proses belajar-mengajar dimulai sejak pagi hingga siang hari, yang didampingi salah seorang guru, maklum jumlah siswa hanya berjumlah 13 orang terdiri dari kelas I berjumlah 3 orang, kelas III 1 orang, kelas IV 2 orang, kelas V 3 orang dan kelas VI 4 orang.

Para siswa dibaur menjadi satu kelas karena dalam jumlah sedikit, dengan metode pelajaran baca tulis dan menghitung (Calistun).

Berdasarkan penuturan guru Ariyanti Mopili usai memberikan materi pelajaran kepada siswa mengatakan jika proses belajar – mengajar berlangsung sudah 6 bulan dengan ketegori kelas jauh.

“Mereka adalah siswa putus sekolah karena ikut bersama orang tua mereka untuk bercocok tanam. Siswa – siswa ini berasal dari Desa lain, diantaranya Desa Bangga, Lito dan Limbatihu Kecamatan Paguyaman Pantai kerena orang tua mereka sebagai petani sehingga iut dengan orang tua mereka. Sementara sekolah MI Assabirin induk berada di Desa Bangga Kecamatan Paguyaman Pantai. Biasanya sebelum pembukaan seolah jarak jauh, mereka bermain – main dipinggir jalan dan dikebun, saat kami membuka sekolah jarak jauh, alhamdullah mereka mau belajar dan punya keinginan yang sama layaknya anak – anak lain,” ungkapnya.

Kepala sekolah MI Assabirin Muzakir Husai diwawancarai terpisah membenarkan jika sekolahnya saat ini masih sangat kekurangan fasilitas berupa buku pelajaran, meubiler kursi dan meja, ruang Lap, Perpus dan UKS, terutama kesejahetaraan guru masih sangat rendah.

“Kekurangan ini menjadi kendala bagi kami untuk menerapkan pendidikan berdasarkan petunjuk yang ada, meski demikian kami sebagai guru tetap berusaha maksimal untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswa. Kekurangan yang dimiliki oleh sekolah ini tidak menjadi penghalang bagi kami untuk mencerdaskan anak – anak harapan bangsa,” terangnya.

Lanjut katanya bahwa yang selain fasilitas yang berada di sekolah infrastruktur penunjang sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan,

“Sampai dengan saat ini jalan menuju sekolah masih rusak parah, maklum sekolah ini berada di pesisir Paguyaman Pantai, Kemudian jaringan seluler yang belum ada dan terakhir fasilitas air bersih belum terpenuhi. Apalagi ini sekolah madrasah, para siswa kesulitan untuk mengambil air wudlu ketika datang shalat, demikian dengan kegiatan praktek shalat yang dilaksanakan tidak ada air,” keluhnya.

Terkait dengan kondisi sekolah jarak jauh yang berada di Desa Buba’a, pihahknya sudah beruapa maksimal untuk menampung anak – anak agar tetap bisa sekolah walaupun dengan fasilitas yang sangat terbatas.

“Dana kita hanya menggunakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), karena keterbatasan anggaran dari pemerintah maupun Kementrian agama maka pihak sekolah dan yayasan harus punya inovasi dan kreasi untuk mengelola anggaran agar pendidikan tetap jalan. Kami bekerja disini dengan tulus iklas, insya Allah kedepan bisa diperhatikan oleh pemerintah,” harapnya.

Kepala Kantor Kementiran Agama (Kemenag) Boalemo Suleman Tongkono’o dikonfirmasi terpisah mengatakan bahwa keterbatasan anggaran sehingga sekolah Madrasah masih kekurangan fasilitas, meksi demikian setiap tahun Kemenag berusaha memberikan porsi anggaran kepada sekolah – sekolah madrasah yang ada di Boalemo.

“Bukan saja MI Assabirin yang ada di Paguyaman Pantai, bahkan Madrasah lainnya yang berada di Bolemo masih kekurangan fasilitas. Salah satunya di Botumoito yang baru saja kami rapatkan bersama pihak sekolah, dan insya Allah dalam waktu dekat kami akan turun ke MA Assabirin Paguyaman Pantai untuk mengkroscek kondisi proses belajar – mengajar serta keluhan yang dialami,” katanya. Terakhir Suleman mengharapkan agar pihak yayasan punya inovasi untuk mengembangkan sekolahnya, nah tugas Kemenag hanya sekedar memback up. Tidak semua kekurangan sekolah harus melibatkan Kemang, apalagi ditengah keterbatasan anggaran yang tersedia, persoalan seperti ini sudah dibicarakan dengan Dinas Pendidikan hanya saja dengan alasan yang sama keterbatasan anggaran. Kita mempunya paradigma yang sama untuk memajukan pendidikan, sehingganya kita harus bergandnegan tangan untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah ini,” pungkasnya. (***/hargo)

Share

Leave a Comment