Nyaris Terseret Arus, Upload Foto Kondisi Desa di Medsos

Nyaris Terseret Arus, Upload Foto Kondisi Desa di Medsos Banjir bandang yang menghantam Desa Juriah, Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo 26 Oktober lalu membuat banyak kerusakan. Waktu itu tinggi air bahkan sampai menjangkau atap rumah. Ketika berkunjung pada Sabtu, (25/11), situasi banjir sudah tidak terlihat

Berita Terkait


Sekelumit Cerita Rostin Hunou Saat Banjir Bandang Melanda Desa Juriah, Bilato

Banjir bandang yang menghantam Desa Juriah, Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo 26 Oktober lalu membuat banyak kerusakan. Waktu itu tinggi air bahkan sampai menjangkau atap rumah. Ketika berkunjung pada Sabtu, (25/11), situasi banjir sudah tidak terlihat. Meski begitu, sebagian besar warga masih banyak yang trauma.

Andi Aulia Arifuddin – Juriah, Bilato

JARUM jam menunjukkan pukul 13.40 WITA, suasana di Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo terlihat mendung. Anak-anak terlihat berlarian masuk ke dalam rumah, sementara beberapa warga sibuk mengangkat jemuran mereka.

Aroma khas lumpur tercium, seolah meyambut tim Gorontalo Post ketika memasuki kawasan Desa Totopo, salah satu desa di Bilato yang dilanda banjir dahsyat, kemarin.
Cat rumah sedikit lebih kusam, sebagian kursi, lemari, dan ranjang tempat tidur warga berada di luar rumah. Hingga akhirnya tim Gorontalo Post tiba di desa Juriah, Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo.

Tak banyak yang tersisa dari musibah yang terjadi 26 Oktober lalu. Hampir seluruh rumah warga di desa Juriah, dimasuki air ketika banjir bandang menimpa pemukiman warga.

Jebolnya tanggul di Desa Juriah, membawa bencana lebih buruk terjadi dalam kurung 9 tahun.

Hampir seluruh rumah di desa Juriah terendam banjir, bahkan banjir terparah sejak 2007 itu bahkan airnya melewati rumah warga. Total 139 rumah warga dimasuki air hingga melebihi pintu rumah mereka.

Rostin Hunou salah satu warga yang rumahnya terendam banjir sedikit menceritakan kejadian di waktu itu. Sekira pukul 15.00 Wita air memang sudah mulai masuk ke rumah warga.

Namun tak terlalu parah. Barulah pada pukul 16.00 Wita ketika suara gemuruh tanggung yang jebol. Air begitu cepat masuk ke Desa Juriah dan tak hitungan jam langsung menenggelamkan desa tersebut.

“Tak sampai menghitung jam, ketika tanggung jebol, air langsung cepat merendam rumah warga, bahkan intensitas airnya terus naik. Kami warga hanya bisa berlari ke atas gunung,” ucapnya.

Ketika itu, Rostin bergegas untuk menyelamatkan anaknya. Dengan kondisi air yang mulai tinggi, Rostin menggendong anaknya untuk naik ke atas gunung. Setelah merasa anaknya aman, ia kemudian turun lagi untuk mencari barang yang mampu ia selamatkan. Namun ketika itu, air makin tinggi, sudah melewati pinggangnya.

“Saya langsung mengunci seluruh rumah saya. Agar barang-barang itu tidak terbawa air,” kata Rostin.

Rostin nyaris menjadi korban dari banjir bandang tersebut. Pasalnya saat itu Rostin tak mampu lagi keluar dari dalam rumah, karena air yang sudah nyaris melewati tubuhnya.

“Hampir tenggelam. Saya sangat takut, karena air sudah semakin tinggi jelang Magrib. Untungnya ada warga yang menolong saya. Begitu pula dengan masyarakat lainnya. Saya hanya mendengar suara warga yang minta tolong, ada anak-anak yang menangis pula,” tuturnya.

Menurut Rostin setelah kejadian itu, beberapa warga masih trauma dengan kondisi tersebut. Bahkan hujan sedikit saja warga mulai berlarian ke atas gunung. Apalagi setelah didata, ada sebanyak 7 rumah yang rusak total.

Sementara 85 rumah yang rumah bagian belakang (dapur) yang hanyut terbawa air.

“Kami masih was-was, soalnya tanggulnya masih dalam kondisi rusak. Kemarin saja waktu hujan deras, kami berfikirnya akan kembali banjir. Makanya kami terus siap siaga. Mengingat pengalaman banjir bandang pada 26 Oktober lalu,” terangnya.

Hal menarik, banjir yang dialami warga Desa Juriah langsung diketahui luas masyarakat. Itu tak lepas dari langkah Rostin yang mengupload kondisi Desa Juriah yang tenggelam ke jejaring media sosial Facebook.

Kala itu sore, sebelum meninggalkan rumah, Rostin sempat mengabadikan kondisi banjir di smartphone miliknya.

“Saat naik ke gunung (mengungsi) saya lantas memposting ke portal di Facebook. Sekadar ingin menyampaikan kondisi banjir yang melanda Desa Juriah,” ungkap Rostin.

Tanpa disadari, foto yang diupload tersebut menjadi viral. Bahkan foto yang diupload Rostin menggerakkan para donatur dan dermawan untuk menggalang bantuan.

Di sisi lain, kebutuhan pokok serta perlengkapan rumah tangga menjadi hal terpenting yang sampai saat ini dibutuhkan oleh masyarakat Desa Juriah maupun Totopo. Sebab seluruh isi rumah warga desa Juriah tak ada yang bisa diselamatkan.

Begitu pula dengan berkas-berkas berharga yang dimiliki warga. Seluruhnya rusak.

“Tidak ada yang bisa kami selamatkan, semuanya rusak. Yang tersisah hanyalah rumah yang dalam kondisi kotor dan kami butuh beberapa hari untuk membersihkannya.

Sementara itu, bantuan terus saja berdatangan. Namun jelas kami membutuhkan perabotan rumah tangga yang rusak terendam air selama beberapa hari. Bahkan ada pula yang kini sudah tak memiliki rumah. Mudah-mudahan pemerintah bisa memperhatikan hal ini,” terangnya. (*/hargo)

Share

Leave a Comment