PAHAM Resmi Dicoret, Boalemo Mencekam


TILAMUTA, hargo.co.id – Situasi ibukota Kabupaten Boalemo Rabu (11/1) kemarin agak mencekam.

Aksi unjuk rasa ribuan massa tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Demokrasi (GMPD) berjalan panas dan sedikit anarkis.

Selain menduduki kantor DPRD dan Pemda, pengunjuk rasa meluapkan kekesalannya dengan memecahkan kaca jendela kantor Bupati.

Pengunjuk rasa juga melakukan aksi bakar ban di halaman kantor DPRD. Unjuk rasa ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap hasil pleno KPU Boalemo mencoret pencalonan pasangan petahana Rum Pagau-Lahmudin Hambali (PAHAM).

Pantauan Gorontalo Post (grup hargo.co.id), sekitar pukul 10.00 wita, sekitar 1000 lebih massa aksi bergerak dari lapangan alun-alun Tilamuta menuju kantor KPUD Boalemo di Desa Piloliyanga Kecamatan Tilamuta.

Massa aksi melakukan long march dengan berjalan kaki, diringi dengan orasi yang disampaikan oleh sejumlah orator.

Massa aksi tiba di depan KPU Boalemo dengan mendapatkan pengawalan ketat kurang lebih 1000 personil gabungan dari unsur Polri, TNI, Satpol PP dan beberapa pihak terkait lainnya.

Awalnya aksi berjalan dengan aman. Sejumlah orator menyampaikan beberapa tuntutan kepada KPUD Boalemo yang dinilai terlalu gegabah dalam mengambil sebuah keputusan.

“KPU Boalemo sudah terburu – buru mengambil keputusan, memang wajib hukumnya KPU menjalankan apa yang menjadi putusan Mahkamah Agung terkait dengan hasil sengketa Pilkada. Akan tetapi dalam dalam penjabarannya, ada teknis pelaksanaan berupa PKPU nomor 4 tahun 2016. Bahwa KPU Boalemo melaksanakan pleno penetapan nanti pada 21 Januari,” kata Atoks Sapana dalam orasinya..

“Namun hal itu tidak dijalankan. Sehingga kami menilai KPU sudah mencederai proses demokrasi yang berlangsung di Boalemo. Belum lagi KPU tidak melaksanakan tahapan Pilkada sesuai dengan ketentuan yang ada, berupa tidak melaksankan debat kandidat calon Bupati. Sehingga ini sebuah kesalahan yang cukup fatal,” urainya.

Unjuk rasa mulai memanas setelah massa meminta kepada aparat kepolisian untuk menemui Komisioner KPU.

Namun setelah diketahui lima anggota Komisioner KPU tidak berada ditempat, massa aksi mendesak masuk. Namun upaya itu nyaris gagal setelah dihalangi oleh aparat kepolisian. Sehingga terjadilah saling dorong antara aparat dan massa aksi.

Share

Leave a Comment