Pelelangan Babuk Sitaan Korupsi Disoal


Hargo.co.id GORONTALO – Pelelangan sejumlah barang bukti (Babuk) hasil sitaan Kejaksaan Tinggi Gorontalo yang berkaitan dengan kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) menuai protes dari pemilik barang yang dilelang oleh pihak berwenang tersebut.

Protes ini disampaikan Bahtin R Tomayahu SH selaku kuasa hukum Margawati Ketjil yang juga sebagai penggugat atas barang yang dilelang itu.

Kepada Gorontalo Post Bahtin R Tomayahu dan Abdul Haris Suleman SH mengatakan, dalam kasus tersebut pihaknya melakukan gugatan kepada sejumlah pihak diantaranya Raymond Chandrajaya, Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo, Pemerintah Provinsi Gorontalo kepala dinas pekerjaan umum, kementeruuan keuangan RI, Iwan Gozali, Kepala Kejaksaan Negeri Bone Bolango.

Adapun alasan gugatan terhadap ketujuh tergugat ini ditegaskan bahtin dan Haris karena ada keterkaitan dengan masalah pelelangan babuk berupa 1 set Aspalt Mixing plan model LB-1000 dan 1 unit stone crusher merk sanbao.

Padahal kedua alat itu statusnya Margawati Ketjil dan hanya disewa oleh Raymond Chandrajaya selaku tergugat I. Selain itu, terdapat pula 10 unit peralatan konstruksi yang disewa Raymond yang notabene milik Margawati Ketjil. Sayangnya kesepuluh unit alat tersebut juga disitan kejaksaan bahkan akan dilelang pula.

Adapun kronologis kejadian itu yakni pada (23/5/2013) tergugat 1 telah menyewa peralatan kontruksi milik penggugat, untuk di gunakan dalam pelaksanaan paket pekerjaan peningkatan struktur jalan Gorontalo Taludaa pada tahun 2013-2014, yang di kerjakan Raymond.

Hal ini kemudian selain obyek sengketa pada tanggal 20/8/2014, Raymmod kembali menyewa peralatan kontruksi peralatan guna pelayanan jalan yang berada di Taludaa Gorontalo.

Setelah melalukan peminjaman, kemudian pada tanggal 25/9/2015 tergugat 2 melakukan penyitaan semua peralatan Kontruksi milik Margawati, dengan tanpa adanya pemberitahuan resmi kepada Margawati selaku pemilik alat proyek tersebut.

Setelah semua itu terjadi, kemudian pada tanggal (18/2/2016) tanpa adanya pemberitahuan kepada margawati, tergugat ke III melakukan pelelangan obyek kendaraan tersebut tanpa ada pemberitahuan. Dengan kejadian ini, penggugat menilai adanya ke tidak adilan dalam pelelangan tersebut.

“Untuk itu kami selaku kuasa hukum ibu Margawati menggugat ke tujuh pihak itu karena menilai pelelangan ini melenggar ketentuan berlaku. Apalagi pelelangan dilakukan sementara perkara itu masih dalam proses persidangan di pengadilan Negeri Gorontalo,”tegas Bahtin dan Haris.

Selain itu keduanya mengaku bahwa klienya mengalami kerugian mencapai Rp 6 miliar. Keduanya juga menghimbau kepada masyarakat lebih arif untuk membeli barang yang notabene adalah miliknya.

“Masyarakat harus lebih berhati-hati dalam pelelangan yang sudah terjadi karena barang tersebut masih milik ibu Margawati, kami meminta agar masyarakat agar tidak tertipu,”tutupnya.

Sementara itu bagian pelaksana lelang AJI mengatakan, pihaknya melaksanakan lelang proyek sudah sesuai dengan aturan yang berlaku di kantor KPKNL.

“Diadakan lelang di karenakan sudah sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku, kami juga melakukan lelang tersebut karena telah menerima laporan serta rekomendasi dari kejaksaan bahwa masalah tersebut sudah terselesaikan di ranah hukumnya,”tandas AJI. (tr-49/hargo)

Share

Leave a Comment