Setor 3 Kg Sampah, Simpanan Bertambah Rp 3 Ribu

Setor 3 Kg Sampah, Simpanan Bertambah Rp 3 Ribu Mesin Sampah Bone Bolango yang kini telah dibentuk koperasi oleh Pemerintah Kabupaten Bone Bolango. (foto : Fahrun/GP).

Berita Terkait


 

Hargo.co.id SUWAWA – Pagi itu dibawa terik mentari, Ernawati Isa mengumpulkan sampah, di samping rumah dengan wajah sumringah.

Sambil mengarahkan tangannya yang menggenggam sampah itu kedalam plastik, ia mengatakan, melalui sampah-sampah ini, ia akan mulai belajar menabung di koperasi.

Program koperasi Sampah telah digagas Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bone Bolango (Bonbol).

Koperasi yang berlokasi di sekitar Kantor Bupati Bonbol tepatnya di Desa Ulantha, Kecamatan Suwawa, Bonbol itu baru-baru ini telah diresmikan Bupati Hamim Pou.

Inovasi ini dicetuskan sejalan dengan upaya pemerintah Bonbol untuk mengajak masyarakat agar menjaga kebersihan kota, tidak membuang sampah sembarangan, serta ingin meraih kembali Tropi Adipura.

Bagi Ernawati yang merupakan warga Suwawa itu, koperasi sampah ini sangat positif. Sampah-sampah yagn tadinya hanya dibuang percuma di samping rumah, kini memiliki harga. Bahkan dengan model koperasi, uangnya pun lebih aman dan dapat terasa jika sudah terkumpul.

“Kami masyarakat tentu sangat senang menyambut koperasi sampah ini,” kata Ernawati.

Saat ini pemerintah Bonbol berupaya agar dalam penilaian Adipura mendatang, bisa mendapatkan nilai yang sangat baik.

Kepala BLH Kabupaten Bonbol Sulistjono Dalman, mengatakan, hal yang mendorong pihaknya membentuk koperasi sampah ini karena ingin menyadarkan masyarakat agar memanfaatkan tidak membuangya sembarang tempat dan mengolahnya menjadi bahan bermanfaat.

Hal itu juga berkaitan khusus dengan upaya untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
S

ampah yang dibeli dari masyarakat itu lanjujt Sulistjono akan diolah. Sebab di dalam koperasi sampah sudah ada mesin penghncur sampah.

“Mesin ini baru kita yang punya di Gorontalo. Mesin mengolah sampah tersebut menjadi kompos yang berguna untuk pertanian,” jelasnya.

Awalnya mesin tersebut hanya 1 unit saja. Namun setelahnya, namun dengan inisiatif dari pemerintah sendiri akhirnya mereka bisa merancang mesin tersebut dengan menggunakan mesin mobil.

“Mesin itu menggerakan 6 unit mesin pemangkas. Sehingganya semua sampah yang dimasukan ke lokasi tersebut langsung dihancurkan dan dijadikan kompos. petugas kebersihan lingkungan hidup juga bisa mendapatkan hasil tambahan dari setiap sampah yang mereka masukan ke koperasi sampah tersebut,” tuturnya.

Sulistjono berharap dengan koperasi sampah ini dapat mendorong terjadinya perubahan paradigma masyarakat dalam melihat sampah. Sampah yang tadinya dapat merusak keindah kini dipandang sebagai barang yang bernilai rupiah.

“Kita melihat sebelum ini banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke saluran drainase. Setelah koperasi sampah ini diharapkan hal itu tak lagi terlihat,” demikian tandas Sulistjono. (***/hargo)

Share

Leave a Comment