Subhanallah Kematian H Jamhuri, Berpulang Saat Bersujud Memimpin Salat Jumat

Subhanallah Kematian H Jamhuri, Berpulang Saat Bersujud Memimpin Salat Jumat H Jamhuri yang berpulang saat memimpin salat Jumat di Masjid Baitutthaharah, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Simpang Tiga, Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, Kaltim

Berita Terkait


Dengan pelan dan sangat lembut, ia menempelkan dahinya ke ujung sajadah. Suara masjid pun seketika itu pula hening. Situasi itu sempat terjadi 90 detik atau sekitar satu setengah menit. Ternyata pemimpin Salat Jumat pun berpulang saat bersujud di rakaat awal.

BAGIUS ARYA SUSANTO, Samarinda

TERIK mentari yang cukup menyengat, tak menyurutkan niat H Jamhuri melangkahkan kakinya ke Masjid Baitutthaharah, kemarin (6/1) siang. Lantaran jarak antara rumahnya dan masjid kurang dari 1 kilometer, penceramah ini memilih berjalan kaki menuju tempat ibadah di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Simpang Tiga, Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, Kalimantan Timur itu.

Mengenakan baju gamis cokelat panjang, serban putih yang diselempangkan di bahu dan kopiah putih sederhana, pria bertubuh ceking ini melangkah pasti melaksanakan kewajibannya Salat Jumat berjamaah.

Gang 17 menjadi jalan utama baginya menuju masjid dua lantai itu. Sembari menuju masjid, pria berusia 71 tahun ini pun sempat menyapa beberapa warga yang ditemuinya di sepanjang jalan dengan senyum ramahnya. Bahkan sejumlah warga menyebut, Jamhuri sempat berbincang bersama jamaah lain saat menuju ke masjid.

Waktu menunjukkan pukul 11.30 Wita. Seperti biasa, Jamhuri menghabiskan waktunya untuk berzikir di saf paling depan, sembari menanti azan Salat Jumat berkumandang yang jatuh pada pukul 12.18 Wita. Dia terlihat tenang, menanti rangkaian salat wajib itu dilaksanakan sembari memetik sulaman biji tasbih di tangan kanannya.

Tak berselang lama, azan pertama pun berkumandang. Jamhuri menghentikan zikirnya untuk mendengarkan setiap lantunan panggilan salat dari muazin yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Hal yang sama juga dilakukan para jamaah lain.

Azan kedua pun rampung dikumandangkan. Ustaz Abdul Kadir naik ke mimbar untuk menyampaikan ceramah. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan makna di balik tahun baru, hingga mengingatkan kepada jamaah untuk melaksanakan lima perkara sebelum lima perkara.

“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang, Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, yakni waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu,” ceramah Abdul Kadir dari atas mimbar. Selain itu, Kadir juga menyampaikan keutamaan seseorang untuk menjadi figur yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Ceramah pertama pun usai, dan langsung dilanjutkan ceramah singkat kedua Kadir. Tak sampai 10 menit, muazin yang duduk di saf paling depan pun kembali berdiri untuk mengumandangkan iqamah atau seruan melaksanakan salat.

Berdasarkan jadwal, imam Salat Jumat siang itu diisi H Pardiansyah, yang juga pengurus masjid Masjid Baitutthaharah. Namun kesempatan itu diberikan kepada Jamhuri, karena dia menganggap orang yang duduk di sebelahnya jauh lebih pantas memimpin ibadah tersebut.

“Pak Haji Pardi – sapaan Pardiansyah— mempersilakan beliau (Jamhuri, Red) untuk menjadi imam. Waktu itu, saya bersebelahan dengan Haji Pardi yang juga berada di depan mimbar,” kata Agus, salah seorang jemaah. 

Share
Diterbitkan dalam Nasional Ditandai

Leave a Comment