Suka Duka Konselor dan Pengidap HIV-AIDS


Ingin Menolong Malah Diusir, Divonis Positif Dikucilkan

TANTANGAN terberat dalam penanggulangan HIV-AIDS adalah melawan stigma dan diskiriminasi. Dikucilkan, dicaci, dicemooh, tidak hanya dialami oleh Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) atau para pengidap.

Para tenaga konselor dari Komisi Penanggulangan HIV-AIDS (KPA) juga turut merasakan perlakuan itu.

Seperti diutarakan salah seorang konselor dari KPA Provinsi Gorontalo, Frengki Adam, masih banyak masyarakat yang menganggap HIV-AIDS sebagai penyakit menjijikan dan patut dihindari.

Sehingga perlu ada strategi dan pendekatan khusus untuk melawan stigma itu.

Selama menjalani profesi sebagai konselor untuk memberi konseling kepada para ODHA, dia kerap mendapatkan penolakan dari para pengidap.

“Kita pernah ditolak, mereka tidak mau terbuka karena menganggap kami ini bukan bagian dari mereka. Padahal bagi kami mereka adalah teman yang special dipilih tuhan untuk mendapatkan HIV Positif, bukan penderita,” tutur Frangki.

Banyak yang menganggap KPA Provinsi tambah Frangki sebagai musuh. Karena menjadikan penyakit yang dikonotasikan masyarakat negatif sebagai sumber penghasilan.

“Diusir, tidak diterima, bagi kami itu tantangan. Bagaimana mematahkan pendapat mereka, merangkul mereka,” tambahnya.

Menurut Frengki, mengubah stigma menjadi tantangan yang cukup berat. Karena masyarakat pada kenyataannya masih memperlakukan para pengidap HIV-AIDS sebagai orang-orang yang menjijikan.

Bahkan ada yang menggapnya sebagai najis, yang harus dihindari.

Tak boleh ada kontak, tidak boleh menggunakan perangkat makan yang sama. Bahkan tak boleh satu ruangan yang sama. Para penderita diperlakukan sebagai orang nista yang melakukan perbuatan yang sangat menjijikan.

“Ada yang berfikir menghirup udara yang sama, berjabatan tangan itu langsung terjangkit, padahal tidak begitu, HIV AIDS tak segampang itu menular,” tegasnya.

Bukan hanya mengubah stigma masyarakat. Mengubah pandangan penderita HIV AIDS juga tidak mudah.

Stigma yang terlanjur terbangun di masyarakat, juga menimbulkan dampak yang begitu besar hingga mempengaruhi psikologi para pengidap. Karena mental drop, para pengidap HIV-AIDS banyak yang mengucilkan diri dari masyarakat.

“Padahal ini penyakit biasa, hanya pengobatannya luar biasa. Setiap penderita kita hadapi dengan cara yang berbeda. Kami mencoba selalu menjadi teman mereka, membuka diri sebagai keluarga,” terang Frangki.

Anggota KPA Bonbol Seskawati Bakari punya cara tersendiri untuk bisa diterima oleh para pengidap HIV-AIDS.

“Kadang kami mendekati temannya dulu, untuk bisa mendekati mereka,” ucap Eka yang menjadi sapaan Seska.

Terlebih jika menghadapi para penderita yang terjangkit karena perilaku seks pasangannya.

Share

Leave a Comment