Tak Pernah Panen, Warga Biawu Krisis Beras

Tak Pernah Panen, Warga Biawu Krisis Beras Stariono Tahir dan Alimin Kadir mengeluhkan kondisi krisis beras di Biawu akibat tak bisa menanam selama tiga kali masa tanam.

Berita Terkait


Hargo.co.id GORONTALO – Kondisi memprihatinkan terjadi di masyarakat Kecamatan Biawu, Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut). Selama 1,5 tahun ini tiga desa yakni desa Windu, desa Topi dan desa Luhuto di kecamatan Biawu tak bisa menanam padi dipersawahan mereka.

Pasalnya saluran air yang menjadi satu-satunya akses perairan para petani ini tertimbun. Kondisi memprihatikan ini membuat masyarakat di tiga desa tersebut krisis beras. Bahkan harga beras di tiga desa tersebut melambung jauh dari harga biasanya.

Ketika mendatangi Gorontalo Post, Jumat (21/10) Stariono Tahir (50) dan Alimin Kadir (60) warga kecamatan Biawu mengaku sejauh ini petani di tiga desa tersebut sudah berupa membangun komunikasi dengan pihak pemerintahan kecamatan dan kabupaten untuk dapat memecahkan masalah tersebut.

Sayangnya, hingga 1,5 tahun masyarakat yang menggantungkan hidup mereka hasil pertanian tak kunjung mendapat bantuan. “Kami sudah berbicara dengan aparat desa dan pemerintah kabupaten Gorut untuk membantu memperbaiki saluran air yang mengaliri ritusan hektar persawahan kami. Namun tak ada kejelasan yang pasti.

Belum lagi Anggaran Desa (ADD) tak pernah menyentuh persoalan yang menyangkut kehidupan ribuan jiwa di tiga desa ini,” jelas Stariono, kemarin.

Sebagai perwakilan para petani di tiga desa tersebut Stariono hanya menginginkan agar pemerintah dalam lebih memperhatikan kondisi mereka. “Kami hanya menggantungkan hidup kami di sawah ini.

Nah bagaimana kami harus menghidupi keluarga kami, kalau selama tiga kali panen kami tak pernah bisa menanam dan selalu gagal panen karena tak ada air yang mengaliri persawahan kami. Yang kami butuh bagaimana sawah kami dapat dialiri air sehingga pada musim tanam ke empat kami bisa menanam kembali.

Ini menyangkut kehidupan ribuan masyarakat. Kami memohon bantuan dari pihak terkait untuk masalah ini,” kata Stariono.
“Belum lagi disini kami kesulitan beras, selama tiga musim kami selalu membeli beras dari desa tetangga. Otomatis harganya lebih mahal. Kalaupun dibeli disini harganya sangat tinggi. Kami krisis beras pak!” timpa Alimin Kadir.

Sementara itu, kepala dinas pertanian Gorontalo Utara Idrus Labantu ketika dikonfirmasi Gorontalo Post mengaku bahwa tiga desa tersebut memang selama tiga musim panen tak bisa menanam padi.

“Ya, memang saluran air disana sedang bermasalah. Bahkan para petani disana sudah meminta bantuan ke kami untuk menyediakan sumur suntik. Namun anggaran yang minim, tahun ini kami belum bisa merealisasikan itu. Insyaallah tahun depan baru kami fasilitasi untuk sumur suntik di tiga desa di kecamatan Biawu,” terang Idrus.

Lanjut dikatakan Idrus bahwa permasalahan saluran air di tiga desa tersebut bukan hanya ditangani oleh dinas pertanian. Melainkan dinas Pekerjaan Umum dan balai sungai ikut terlibat dalam persoalan tersebut.

“Jadi masalahnya kan soal aliran sungai disana yang mengalami masalah. Jadi yang mengurusinya itu juga adalah Dinas PU dan balai sungai. Kami dinas pertanian tetap akan menyediakan sumur suntik itu, namun baru akan terealisasi tahun depan,” tuntasnya. (ndi/hargo)

Share

Leave a Comment