Tak Punya Biaya, Orang Tua Balita Penderita Hydrosefalus Hanya Bisa Pasrah

Tak Punya Biaya, Orang Tua Balita Penderita Hydrosefalus Hanya Bisa Pasrah Sri Yulianti hanya pasrah melihat kondisi anaknya yang mengidap penyakit hidrpsefalus di RSAS Kota Gorontalo, Kamis, (20/10). (foto : Rudini/GP).

Berita Terkait


Hargo.co.id Gorontalo – Sri Yulianti Pakaya (23), seperti dilanda cobaan yang begitu berat. Balitanya Sukmawti Pongoliu yang baru menginjak 2 tahun itu, mengidap penyakit pembesaran kepala atau dikenal penyakit hidrosefalus. Operasi pertamanya belum memberikan efek perubahan, sementara operasi keduanya tertunda karena faktor ekonomi.

Lahir dari keluarga sederhana, putri pasanganĀ Adrian Pongilu (26) danĀ Sri Yulianti Pakaya (23) ini trepaksa harus menanggung beban yang cukup berat, dan harus menjalani perawatan intensif dirumah sakit Aloe Saboe.

Meski sudah pernah menjalani operasi, namun penyakit yang diderita balita ini, masih butuh perawatan maksimal, sementara pihak keluarga kusulitan mengatasi biaya pengobatannya.

Sejatinya bayi asal Desa Motolu Selatan, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato itu sudah dioperasi oleh pihak kedokteran RSAS Kota Gorontalo pada Senin, (17/10). Namun, operasi tersebut sampai kini belum memberikan perubahan.

“Kalau sakit di kepalanya datang, ia terus menangis sehingga saya sendiri sangat sedih melihatnya. Kalau begitu, saya kadang menghiburnya dengan tepuk-tepuk tangan dan itu yang membuatnya ketawa meski hanya sesaat kemudian menangis lagi karena sakit yang terlalu,” kata Sri Yulianti ketika diwawancarai Gorontalo Post, kemarin, (20/10).

Sri mengungkapkan, awalnya, Sukmawati dilahirkan dalam keadaan normal seperti bayi pada umumnya. Namun saat usianya memasuki 6 bulan, penyakit itu mulai menggerogoti kepalanya. Perlahan kepala si bayi mungil itu terus membengkak.

“Awalnya masuk usia 6 bulan sudah ada bejolan di kepala bagian kiri, baru lama kelamaan kepala anak tercinta saya sudah membesar,” tuturnya.

Sukmawati terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Sang ayah Adrian Pongilu (26) hanyalah petani penggarp lahan. Adapun sang ibu Sri Yulianti tidak lebih dari seorang Ibu Rumah Tangga (IRT). “Pekerjaan saya hanya petani yang dan istri saya hanya bekerja di rumah, kami juga tidak penhasilan yang lain hanya bertani saja,” ucap Adrian yang baru saja tiba di tempat itu.

Dari keterbatasan pendapatan itu Sri Yulianti dan Adrian tetap tegar dan berharap anak kesayangannya bisa sembuh dari penyakit yang di deritanya.

“Kami sangat berharap kepada Allah SWT, agar bisa mengangkat penyakit yang diderita anak saya, kami keluarga sangat ingin melihat ia seperti anak-anak yang lain, bisa merasakan kehidupan yang lebih baik, kami juga berharap kepada Masyarakat Gorontalo, agar bisa memanjatkan doa kepada anak kami agar bisa cepat sembuh dari penyakit yang ia derita,” kata Adrian, penuh harap. (Rudini/GP/Hargo)

 

 

Share

Leave a Comment