Terminal Bayangan Menjamur, Dishub Dilema Lakukan Penertiban


Hargo.co.id GORONTALO – Keberadaan sejumlah terminal bayangan di wilayah Limboto kini menjadi salah satu kendala penataan Limboto sebagai pusat ibu kota. Meski telah ada Terminal Shoping Limboto, para sopir mini bus lebih memilih menunggu penumpang di luar terminal. Kondisi itu membuat sejumlah kawasan strategis di wilayah ibu kota sudah menjadi terminal bayangan.

Keberadaan teminal bayangan ini cukup banyak. Tapi yang paling sering di tempati adalah sekitar kawasan Menara Keagungan Limboto sampai depan Omart Limboto dan sekitar kawasan simpang empat RS MM Dunda Limboto sampai kawasan Patung Berdoa.

Kondisi yang sama juga terlihat di wilayah Kecamatan Telaga. Tepatnya di sepanjang kawasan SMA Negeri 1 Telaga hingga sektiar kawasan Telaga Mart.

Seperti sebelum-sebelumnya, alasan para supir sehingga lebih memilih mangkal di terminal bayangan dari pada terminal yang disediakan pemerintah, karena di terminal resmi sulit mendapatkan penumpang.

Apalagi dengan keberadaan bentor yang semakin hari semakin bertambah banyak, banyak penumpang yang memilih untuk naik bentor hingga ke tempat tujuan dari pada harus menunggu mobil angkutan, jika audah bermangkal di termina.

Makanya meskipun sering dilakukan penertiban mereka tetap kumabal dan menempati terminal bayangan untuk mencari penumpang. “Untuk mengejar setoran setiap hari saja sudah kesulitan, apa kita harus bertahan di terminal. Kalau ditertibkan, bentor juga harus ditertibkan dan jalurnya harus dibatasi,” ujar salah satu sopir yang namanya enggan untuk dikorankan saat berbincang-bincang dengan awak media, Kamis, (20/10).

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Gorontalo Sumantik Maku saat ditemui beberapa waktu kemarin, mengaku dilema dalam melakukan penertiban, khusunya menyangkut keberadaan bentor.

Pasalnya dikatakan oleh Sumantik, keberadaan bentor sebagai sarana angkutan umum ini masih terbilang ilegal, karena belum payung hukum  atau undang-undang yang mengaturnya. Sehingga menurutnya, jika sudah sudah ada pembatasan terhadap jalur bentor, sama dengan melegalkan keberadaan bentor.

“Bentor ini sudah dibicarakan di tingkat provinsi hingga tingkat kementrian, tapi belum ada solusinya. Bahkan SIM untuk pengemudi bentor, masih menggunakan SIM C untuk roda dua,” terangnya. (ded/hargo)

Share

Leave a Comment