Usia Renta Mampu Kuliahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi

Usia Renta Mampu Kuliahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi Rini Arafah-Adam Abuna warga Desa Limbatihu Kecamatan Paguyaman Pantai yang menjadi pengumpul kayu bakar untuk dijual. ( Foto Felix Idrus / Gorontalo Post)

Berita Terkait


 

Di sebuah pelosok Kecamatan Paguyaman Pantai Kabupaten Boalemo tepatanya di Desa Limbatihu hidup dua warga yang sudah renta. Kendati keseharian mereka hanya sebagai pengumpul kayu bakar. Namun, keduannya yang masih ada hubungan kerabat tersebut mampu menyekolahkan anaknya hingga di bangku kuliah.

Felix Idrus – Paguyaman Pantai
 Roy Tilameo

Terik mentari menyengat kulit Senin (27/11) sekira pukul 13.00 wita disaat Gorontalo Post menelusuri kawasan hutan Desa Limbatihu Kecamatan Paguyaman Pantai.

Di pertengahan jalan bebatuan dan sempit, awak koran ini menemui sejumlah warga yang tengah sibuk mengumpulkan kayu bakar. Salah satu diantara warga itu yakni Rini Arafah-Adam Abuna dua warga yang sudah rentah.

Cara keduanya mengumpulkan kayu yakni mengambil batang kayu di dalam hutan, kemudian batang kayu tersebut dibelah.

Setelah kayu itu dibelah hingga menjadi beberapa belahan kemudian diikat. Kayu yang sudah diikat di bawa ke perkampungan untuk dijual ke Kota Gorontalo.

Keseharian Rini Arafah-Adam Abuna mengumpul kayu itu dilakukan demi membiayai anak mereka yang saat ini tengah menjalankan studi Starata Satu (S1) di Perguruan Tinggi yang ada di Kota Gorontalo.

Jenis kayu yang dikumpulkan itu yakni Lamtoro dan jenis lain yang mudah dijadikan kayu api. Jika dari arah Desa Lito Kecamatan Paguyaman Pantai tempat pengumpulan kayu itu berada di bahu jalan, tepatnya di ruas jalan Desa Bangga.

Sudah ada ratusan kayu yang sudah terikat rapi berjejer sepanjang jalan. Kayu – kayu itu sudah siap diangkut menggunakan truk oleh salah salah seorang pengusaha yang selanjutnya akan dijual di Kota Gorontalo.

Tempat yang digunakan untuk menumpuk kayu sangat sederhana yakni cup beratapkan daun dan beralaskan tanah.

Mereka pengumpul kayu bukan warga sekitar melainkan berasal dari Desa Limbatihu yang notabenenya desa tentangga.

“Jadi anak saya sementara studi akhir semester 7 di salah satu perguruan tinggi di Gorontalo. Ditengah kelangkaan gas elpiji menjadi kesempatan kami untuk bisa menjual kayu api kepada penampung,”jelasnya.

Biasanya satu ikat kayu bisa dihargai Rp 2 ribu, dalam sehari pihaknya kata Arafah bisa mengumpulkan 20 ikat kayu hingga 1 pekan lamanya.

Sekali muat di truk ada sekitar 900 ikat kayu, kayu itu diambil oleh seorang pengusaha untuk dijual di Kota Gorontalo.

“Alhamdullah salah satu anak saya sudah selesai kuliah. Yang kedua sementara kuliah, kegiatan ini kami lakoni setengah tahun lalu. Kami berharap agar anak – anak kami bisa kuliah dengan baik dan sukses, dari jerih payah yang kami lakukan saat ini,” ungkap Adam pria paro baya itu.

Lanjut katanya, bahwa dalam proses pengambilan kayu bakar awalnya mereka khawatir karena berada dikawasan gunung dan pesisir pantai, namun setelah berkoordinasi dengan pemerintah setempat ternya diperbolehkan.

“Awalnya kami ragu keran cara kami ini ilegal, ternyata tidak. Kayu – kayu ini hidup dengan jumlah yang cukup besar da tidak bermanfaat. Proses pengambilan kayu lamtoro terhitung cukup sulit karena hidup dilereng gunung bahkan ditanah yang memiliki kemiringan hingga 45 derajat, kayu itu dipotong ukuran kecil, kemudian dikupas, dikeringkan, di ikat, setelah sudah kering baru bisa dimuat. Memang penghasilannya hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami, bahkan saat ini sudah sebagian besar masyarakat sudah menjadi pengumpul kayu ditengah kelangkaan gas elpiji,” pungkasnya. (*/hargo)

 

Share

Leave a Comment