Warga Lokal Nganggur, Pekerja China Membludak

Warga Lokal Nganggur, Pekerja China Membludak Ilustrasi Pekerja China (kanan) dan pekerja lokal (kiri) yang beredar di media sosial. (foto facebook)

Berita Terkait


 

Hargo.co.id GORONTALO – Kesempatan masyarakat Indonesia untuk bisa memperoleh pekerjaan di negaranya sendiri nampaknya akan semakin sempit. Ini disebabkan, banyaknya pekerja asal China yang kini mulai masuk ke Indonesia.

Informasi masuknya para pekerja China ini pun telah menyebar di media sosial (Medsos).

Seperti halnya yang dilansir beritaislam24h.net. Dimana para buruh kasar asal Cina telah masuk di daerah Jeneponto Sulawesi Selatan.

Buruh tanpa dokumen tersebut berjumlah sekitar 60 persen dari total pekerjaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Permasalahan ini telah menjadi perhatian bagi Mukhtar Tompo selaku perwakilan DPR-RI dari tempat kelahirannya tersebut. Dia mengaku telah mendapat laporan bahwa keberadaan buruh ilegal itu telah berlangsung sekitar enam bulan.

“Ini sangat kita sayangkan, Pemdanya tidak tahu dan kecolongan. Di Jeneponto itu banyak yang nganggur, kenapa tidak diberdayakan tenaga lokal, padahal jenis pekerjaan itu bisa dilakukan oleh tenaga lokal,” kata Mukhtar kepada beritaislam24h.net, Rabu (23/11).

Ia melihat adanya potensi yang besar terjadinya konflik sosial dengan warga lokal. Dia memahami bahwa warga Jeneponto masih memegang budaya lokal yang kental, sehingga mereka tidak bisa menerima jika kemurnian budaya mereka dirusak oleh pendatang.

Tak hanya itu, dilansir pos-metro.com, pada 15 November lalu, sebanyak 18 pekerja asing asal Cina diamankan Subdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut. Para pekerja tersebut diamankan di lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) desa Tanjung Pasir, Pangkalan Susu, Langkat.

Dirreskrimsus Polda Sumut Kombes Toga H Panjaitan mengatakan, para pekerja ini berasal dari tiga perusahaan penyalur, yakni PT Sinohydro Erection, PT Indo Pusat Bumi dan PT Heibei Jiankan Indonesia.

Dari 18 orang yang diamankan, 15 di antaranya tidak memiliki izin tertulis berupa Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) dan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA).

“Dari setiap perusahaan penyalur ada enam tenaga kerja asing yang mereka salurkan ke proyek PLTU ini,” kata Toga, kepada pos-metro.com, Selasa (15/11).

Toga mengatakan, 18 pekerja asing yang diamankan tersebut semuanya berasal dari Cina. Enam pekerja yang berasal dari PT Sinohydro Erection, yakni Liu Zhibin (63 tahun), Si Chao (36), Yang Junle (32), Lin Wei Wei (31), Ding Xian Qun (46), dan Zhao Guangjun (33).

Sementara enam orang lain yang berasal dari PT Indo Pusat Bumi, yaitu Lie Cing Sheng (54), Shi Hua Jun (43), Liu Jing Feng (54), Li Wen Jung (60), Guo Hai Yuan (38), dan Li Yu Zhu (51). Lalu enam orang lagi dari PT Hebei Jiankan Indonesia, yakni Hu Peng (33), Li Pengfei (23), Liang Libo (33), Xu Lianwei (34), Zhang Cong (25), dan Zhang Meng (28).

Para pekerja asing ini, lanjut Toga, umumnya dipekerjakan sebagai buruh kasar di bagian konstruksi. “Dari hasil penyelidikan sementara, para pekerja asing ini sudah tinggal selama dua sampai tiga bulan lamanya di Langkat,” ujar dia.

Sementara itu, Kasubdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut AKBP Robin Simatupang mengatakan, para pekerja ini rata-rata tidak dilengkapi dengan dokumen kerja di Indonesia.

Pihaknya pun, kata Robin, telah berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti Imigrasi dan Disnakertrans Sumut, dalam menangani mereka.

“Setelah mereka kami lakukan pemeriksaan kemudian kami serahkan ke pihak imigrasi, sebab yang punya wewenang kan mereka,” ujar dia.

Atas perbuatannya, Robin menyebut, para pekerja asing tersebut dijerat Pasal 42 Ayat 1 dan atau Pasal 185 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Pasal 19 Ayat 1 dan atau Ayat 2 Pasal 55 UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan atau Pasal 122 huruf a dan b UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Selain pekerja, pemborong China juga telah masuk ke Indonesia. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengeluhkan banyaknya temuan bahwa illegal workers (pekerja ilegal) dari China beroperasi di Indonesia. Selain itu, juga ditemukan kontraktor ilegal dari China yang mengerjakan proyek di Tanah Air.

Wakil Ketua Umum Bidang Konstruksi dan Infrastruktur Kadin Indonesia, Erwin Aksa mengatakan pemerintah dan imigrasi harus bekerja keras menyelesaikan para pekerja ilegal dan pemborong ilegal dari China ini.

“Karena sudah banyak yang dari China, mereka datang ke Indonesia untuk bekerja, dan merugikan kontraktor-kontraktor Indonesia,” kata Erwin di Rakernas Kadin Bidang Konstruksi dan Infrastruktur, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/11).

Ia menuntut harus ada penyelesaian persoalan ini.

Pemerintah didorong harus punya peraturan yang ketat agar tidak sembarangan kontraktor masuk ke Indonesia. Erwin menyodorkan contoh, bangunan-bangunan gedung berdesain China, harus mendatangkan designer dari China. Padahal menurutnya, arsitek Indonesia bisa membuat bangunan tersebut.

“Kita harus perkuat peraturan, jangan sampai semuanya kontraktor asing yang bangun,” tegas Erwin.

Sementara itu, di saat pekerja China mulai membludak di Indonesia, jumlah pengangguran di negara ini ternyata masih cukup banyak.

Di Gorontalo saja, data Agustus 2016, sebanyak 15.528 orang masih nganggur.

Jika dipilah menurut pendidikan, Tingkat Pengangguran Trerbuka (TPT) untuk pendidikan SD ke bawah sebesar 1,72 persen, pendidikan menengah (SMP-SMU) 3,99 persen dan perguruan tinggi (diploma-universitas) sebesar 3,49 persen.

Artinya, mereka yang menganggur ternyata paling banyak dari kalangan pendidikan menengah dan perguruan tinggi.(net/dan/hargo)

Share

Leave a Comment