WARNING! Budaya Gorontalo Berpotensi Diklaim Daerah Lain

WARNING! Budaya Gorontalo Berpotensi Diklaim Daerah Lain Plt Gubernur Gorontalo Prof Zudan Arif ketika membuka kongres Budaya di Universitas Negeri Gorontalo. (Foto Natha Gorontalo Post)

Berita Terkait


GORONTALO, hargo.co.id  – Kongres yang berlangsung di Universitas Negeri Gorontalo, Selasa (8/11) menghasilkan pandangan tentang kelestarian Budaya di Gorontalo.

Dalam kongres yang diikuti sejumlah tokoh adat, budaya dan pemerintah ini, mengungkap jika perilaku kehidupan modern saat ini begitu besar memberikan ancaman kelangsungan budaya daerah.

Pengakuan pemerintah, serta konsistensi pelestarian budaya menjadi penangkal agar budaya dan adat daerah ini tetap lestari dan digunakan masyarakat Gorontalo.

Pada kongres tersebut, peninggalan budaya seperti pakaian adat Takoa dan Bate Tonggohu, itu rawan diadopsi daerah lain, karena belum mendaptkan perhatian yang sangat serius.

Selain itu, adat seperti adat pernikahan, juga mulai tergerus karena dicampur dengan tradisi modern.

Begitu pun dengan bahasa Gorontalo yang tak lagi populer dikalangan remaja.

Padahal bahasa Gorontalo adalah ciri khas daerah ini, dan bahkan menjadi pemersatu orang Gorontalo di tanah rantau. Bahasa daerah yang kini nyaris punah adalah bahasa Bonda, di Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.

Dari sisi lingkungan, tanaman adat Gorontalo juga kini sudah jarang ditemukan, seperti Bambu kuning khas Gorontalo, Pinang, dan tanaman adat lainnya.

Kongres Budaya tersebut, menjadi ajang bagi semua stakeholder, pemerintah daerah, pemerhati budaya, dewan adat, dan akademisi untuk berbicara bagaiamana cara mempertahankan budaya Gorontalo.

Dekan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Harto Malik menyampaikan, saat ini sudah ada ancaman tentang kepunahan bahkan ada ancaman juga klaim dari daerah lain tentang budaya Gorontalo.

“Kebudayaan Gorontalo harus kita jaga bersama, sehingga itu kami dari kampus melaksanakan kegiatan Kongres Budaya ini, semua pemerhati budaya berbicara tentang kekayaan budaya yang dimiliki oleh Gorontalo, sehingga kita tahu budaya kita, bahkan kita juga melakukan deklarasi pemuda pecinta budaya,” kata Harto Malik.

Rektor UNG, Prof. Dr. Syamsu Q Badu menyampaikan, kampus sangat berkomitmen dalam menjaga dan melestarikan budaya, sehingga itu Kongres budaya yang dilaksanakan ini, merupakan bukti dari kampus untuk tetap melestarikan budaya Gorontalo.

Share

Leave a Comment