Abang Bentor Tak Nyaman Pakai Helm Standar

Salah seorang pengemudi bentor masih menggunakan helm krupuk menjelang penertiban helm oleh pihak kepolisian Satlantas. (Foto: Rian/Gorontalo Post).

LIMBOTO, Hargo.co.id  – Ramai sosialisasi penerapan helm standar khusus kepada abang bentor sejatinya menimbulkan pro dan kontra di kalangan pengemudi kendaraan roda tiga ini. Yang kontra, rupanya hanya masalah kenyamanan dan kebiasaan saja.

Seperti yang diungkapkan Arfan (20), abang bentor yang kontra dengan wacana penggunaan helm standar mengaku dirinya tidak merasa nyaman saja, “Soalnya helm standar menutup seluruh bagian kepala. Jadi, kalau ada penumpang yang memanggil, takutnya tidak dapat didengar. Karena kalau helm standar, telinga kami tertutup,” ungkap Arfan.

Senada juga diungkapkan Iman (27), abang bentor yang berdomisili di Kelurahan Bolihuangga, Limboto. Menurutnya, penggunaan helm standar belum terlalu diperlukan mengingat rata-rata abang bentor di jalan tidak berkendara dengan kecepatan tinggi.

“Memang pak, tidak ada yang mau minta-minta orang mo kecelakaan. Tapi kalau mau tanya saya, ini belum mendesak,” jelas Iman. Meski sudah mendesak, dia berharap penggunaan helm standar dapat diimbangi dengan penekanan terhadap penjualan helm biasa. “Ini sama saja dengan knalpot racing. Katanya tidak boleh, yang kedapatan di tilang. Tapi, tidak ada toko-toko yang dilarang menjual knalpot racing,” jelasnya.

Lain lagi dengan penuturan Aswan (24), abang bentor yang berdomisili di Kecamatan Batudaa. Dia mengaku saat ini belum mampu membeli helm standar. Dia masih menggunakan helm krupuk karena harganya jauh lebih murah. “Harga helm standar sekarang rata-rata Rp 100 Ribu keatas. Di rumah hanya saya yang bekerja, belum mau kasih makan anak-anak. Saya punya bentor ini saja cuma warisan,” kata Aswan.

Rencananya, penerapan penggunaan helm standar bagi abang bentor efektif dilakukan awal tahun depan. Kasat Lantas Polres Gorontalo AKP Satrio Prayogo mengungkapkan,memang untuk saat ini pihaknya masih terus berupaya melakukan sosialisasi mengubah cara berkendara masyarakat yang ada di Gorontalo yang menganggap penggunaan helm kerupuk bagi abang bentor adalah wajar.

“Nanti pada pekan depan akan kita tindaki untuk para abang bentor yang melanggar dan tanpa toleransi lagi. Nanti kita juga akan buatkan semacam monumen helm krupuk di depan Polres Gorontalo, jadi saat ada helm yang kita sita, akan kita tumpuk di monumen itu. Untuk alasan tidak bisa mendengar, kita sudah lakukan percobaan dan tidak ada masalah. Artinya, kita masih bisa mendengar suara atau bunyi dari luar,” ungkapnya.

Dari pantauan Gorontalo Post di seputaran jalanan Kecamatan Limboto, masih banyak abang bentor yang menggunakan helm krupuk. Mereka sudah menganggap, helm krupuk adalah cirikhas helm untuk abang bentor.(tr-56/hg)