Air Bersih Langka, Warga di Batudaa Pantai Hidup Seperti di Gurun Pasir

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Gorontalo Syam T. Ase dan jajarannya saat berkunjung ke bak penampungan air di desa Desa Pangatiboni, kecamatan Batudaa Pantai. (foto fahrun/Gorontalo Post)

Hargo.co.id GORONTALO – Bila di wilayah ibu kota Kabupaten Gorontalo memiliki sumber air yang melimpah untuk kehidupan sehari-hari, lain halnya dengan di Desa Pangatiboni, Kecamatan Batudaa Pantai.

Di desa ini, terdapat salah satu dusun yang dilanda krisis air bersih. Air menjadi seperti barang langka. 123 Kepala Keluraga (KK) di desa tersebutseperti tengah hidup di gurun pasir.

Sumur-sumur warga yang ada Di Desa Pangotaboni saat ini tingginya tinggal sekitar 20 cm. Itu pun tidak dimiliki oleh semua rumah. Dengan ketinggian air tersebut, setiap kali ditimba oleh masyarakat airnya langsung berkabut.

Sejatinya, selain mengandalkan sumur, pemerintah Kabupaten Gorontalo telah membangun bak penampung air yang dialirkan dari mata air pegunungan. Seluruhnya ada 3 bak. Dari mata air diatas gunung kemudian menuju bak pertama, selanjutnya ke bak kedua dan ketiga.

Dari bak pertama ke bak kedua air masih berjalan. Namun dari bak kedua ke bak ketiga airnya mampet. Akibatnya pipa sambungan air ke pemukiman warga yang diharapkan meluncur dari bak ketiga tak lagi mengalirkan air. Lantaran kondisi ini terpaksa warga harus berjalan sejauh 1/2 kilometer setiap harinya untuk menjangkau sumber air terdekat desa tetangga.

Yusno Akuba warga setempat mengatakan, krisis air yang melanda desanya sudah berlangsung selama 3 bulan ini. Padahal air tersebut sangat di butuhkan terutama untuk keperluan memasak, namun dengan kondisi seperti ini pihaknya terpaksa menggunakan air sumur yang sangat berkabut itu.

“Saya menggunakan air sumur. Saat ini sumurnya sudah hampir kering. Airnya juga seringkali berbau lumpur jika pemakaian yang berlebihan,” ungkap Yusno.