Andai GIE Ada

Hargo.co.id, ZETIZEN – HIDUP MAHASISWA! HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!

Kurang lebih 53 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1965 hingga 1966, slogan ini senantiasa menggelegar, keluar dari mulut-mulut kecil para mahasiswa yang berjiwa besar, demi untuk menyuarakan aspirasi dan Amanah Penderitaan Rakyat (Ampera).

Adalah Soe Hok-gie. Mahasiswa kurus nan ceking dengan gaya berjalan lucu -yang menjadi salah satu tokoh pergerakan mahasiswa pada saat itu. Ia yang berasal dari FS-UI Rawamangun memulai perjalanan tentang kehidupan yang tak ternilai ini, bersama teman-temannya, menuntut keadilan dari sang Bapak Revolusi, Soekarno yang pada saat itu hampir 21 tahun lamanya menjadi pemimpin tertinggi di Indonesia, dan sejak dekade 1960’an makin merajalela menerapkan demokrasi terpimpin di seantero Negeri. Semua yang tidak sesuai dengan kebijakan yang telah digariskannya dikategorikan sebagai antirevolusi dan melanggar demokrasi terpimpin. Dalam periode inilah, Soe Hok-gie tumbuh meninggalkan masa remajanya, menjadi intelektual muda yang selalu gelisah dengan berbagai kesewenangan dan ketidakadilan.

Tiga tuntutan yang paling mendominasi aksi mahasiswa Rawamangun-Salemba pada saat itu, yakni penghapusan DwiFungsi ABRI, pemberantasan PKI, serta yang paling penting adalah meruntuhkan Orde Lama.

Andai sekarang GIE masih ada, kira-kira apa yang akan dilakukannya? Apakah dia tetap memiliki energi ‘idealis’? Atau justru ‘apatis’?

Suasana politik dan keamanan negeri kita saat ini terasa bergemuruh. Gazwul Fikri (Perang Pemikiran) terjadi dimana-mana. Teror kian merajalela. Kasus risak tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi -dan tak ada pula yang peduli. Pemimpin jadi tersangka. Jumlah penderita penyakit terus meningkat. Bahkan aroma ‘politik balas jasa’ terasa kuat dan sulit nian ditutup-tutupi. Sembako naik lagi? Wah, itu mah berita biasa.

Apa reaksi Soe Hok-gie jika masih hidup? Apa pula tindakannya? Tentu jika masih hidup usianya sudah sekitar 76 tahun. Dia lahir di Jakarta, 17 Desember 1942 dan wafat pada 16 Desember 1969 di puncak tertinggi pulau Jawa, puncak Gunung Semeru.

Mengingat hari ini adalah Hari Kebangkitan Mahasiswa, tentunya perlu diperhatikan eksistensi dan esensi para mahasiswa saat ini dalam mengemban Ampera. Bagaimana tindak nyata mahasiswa saat ini dalam melihat banyaknya permasalahan yang terjadi di Negeri tercinta ini? Apakah masih ada mahasiswa yang memiliki tindakan inspiratif untuk membela ketidakadilan layaknya GIE?

Andai GIE ada, apa yang akan dikatakannya ketika melihat kondisi dan keadaan mahasiswa saat ini? Di zamannya, dengan tema “Buku, Pesta, dan Cinta”, mahasiswa mampu tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Lalu, apakah itu masih bisa diharapkan dari mahasiswa zaman sekarang?

Apa pendapat kalian MAHASISWA Gorontalo? Apakah saat ini kita mampu berkata, “Lebih baik saya diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan”, seperti yang GIE katakan? (hargo/ZT-11)

Pustaka : Badil, Rudy. Sutrisno Bekti, Luki. Luntungan R. Nessy. 2009. Soe Hok-gie Sekali Lagi. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.

 

Kolom Aktivis

Nurmawan Pakaya (Ti Kama)
Aktifis Pergerakan Mahasiswa,
Dewan Khusus Senior dan Alumnus FOSMAT

Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, aku memilih untuk jadi manusia merdeka.

 

GIE Catatan Seorang Demonstran

Benar apa yang dikatakan oleh GIE, hanya ada dua pilihan ketika kita berstatus sebagai Mahasiswa, menjadi apatis atau mengikuti arus. Dewasa ini, pergerakan mahasiswa bisa dikatakan mengalami ‘vacum of power’. Sebab, mahasiswa yang seharusnya menjadi ring satu dalam sosial of control kini telah banyak tergiring oleh pusaran arus. Lihat saja mereka yang saat ini terlanjur terjun dalam ranah politik praktis di internal kampus. Jika sudah begitu, mahasiswa tidak ubahnya seperti para kaum kapitalis. Ada juga mereka yang terlalu takut pada sistem yang dibuat oleh birokrasi itu sendiri, yang melunturkan semangat dalam berorganisasi.

Terlepas kita sebagai kaum intelek, pada dasarnya mahasiswa adalah pendobrak perubahan bagi masyarakat itu sendiri. Hegemoni budaya dan sistem yang seolah-olah mematikan daya kritis seorang mahasiswa cukup dibilang sakti. Sebab mahasiswa dipaksa hanya untuk mencari nilai, alias angka pada hitam di atas putih, sebaliknya bukan untuk mempraktikkan nilai itu sendiri dalam masyrakat.

Ingat! Bahwa sejarah kemerdekaan bangsa ini tidak terlepas dari pergerakan pemuda (mahasiswa) di zaman itu. Lantas apakah kita hanya menjadi generasi penikmat atas perjuangan itu? Apakah kita hanya akan menjadi generasi penurut pada sistem yang merugikan bahkan mengancam kesejahteraan rakyat? Ataukah kita lebih nyaman berada di posisi saat ini? Dimana kita hanya berkutat pada kekuasaan di internal kampus? Terlalu banyak kesenangan yang menggema, namun hanya sebatas pada kepentingan pribadi!

Semoga kita masih konsisten dengan nilai-nilai dasar pergerakan mahasiswa itu sendiri. (ZT-11)