Area Persawahan Terus Tergerus, Beralih Fungsi Jadi …

Hargo.co.id GORONTALO – Luas areal persawahan di Kota Gorontalo yang sudah minim terus berkurang dari tahun ke tahun akibat kegiatan pembangunan baik gedung maupun perumahan.

Data yang diperoleh Gorontalo Post di Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DPKP) Kota Gorontalo, luas wilayah persawahan di ibukota provinsi Gorontalo ini tinggal 852 hektar pada Oktober 2016.

Luas tersebut berkurang sekitar 9 hektar jika dibandingkan pada Oktober 2015 yang dengan total mencapai 861 hektar.

Bukan tidak mungkin, seiring dengan perkembangan pembangunan di Kota Gorontalo, areal persawahan bakal terus berkurang.

Kepala DPKP Kota Gorontalo melalui Kabid Prasarana Pertanian, Farid Badjeber mengakui hal itu.

Menurut Farid, meski sudah ada regulasi untuk meminimalisir alih fungsi persawahan menjadi bangunan, namun posisi tergerusnya luas persawahan masih terus menjadi ancaman.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Gorontalo sudah memiliki Perda Nomor 40 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2010-2030.

Selain itu, ada juga Perwako Nomor 14 Tahun 2015 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah Beririgasi Teknis dimana lahan tersebut masih merupakan kawasan pertanian pangan berkelanjutan.

Namun, kata Farid, aturan tersebut belum mampu mencegah tergerusnya areal persawahan. “Posisi instansi masih begitu lemah sehingga penggerusan belum bisa dicegah,” kata Farid.

Salah satu kelemahannya adalah belum mengatur lahan pertanian beririgasi teknis dan lahan mana yang harus dipertahankan.

“Penggusuran terus terjadi, tidak ada yang jelas di RTRW, tak ada peta lokasinya,” katanya. Olehnya, Farid mengaku telah mengusulkan ke pihak Bappeda Kota Gorontalo agar menetapkan lahan yang tidak bisa dialihfungsikan.

Dan melalui perubahan RTRW, ia mengusulkan rencana tersebut karena saat ini pihak Bappeda tengah merevisi RTRW Kota Gorontalo.

“Jadi, hemat saya, minimal 500 hektar sawah yang harus dipertahankan di Kota Gorontalo. Selama dua tahun saya menjabat, saya belum pernah merekomendasikan alih fungsi lahan sawah menjadi bangunan.

Saya juga tak pernah mengizinkan pembangunan itu, tapi itulah kelamahan dari kami tidak bisa berbuat apa-apa dalam melindungi lahan persawahan yang terus berganti menjadi bangunan,” tandasnya.(axl/tr-53/hargo)