Asap Tebal Ganggu Jarak Pandang Pengendara

Kepulan asap hasil pembakaran jerami yang menjadi limbah padi dibakar oleh petani. Padahal, instansi terkait telah menghimbau agar tidak ada lagi pembakaran jerami namun tetap saja kabut asap terlihat di mana-mana.

Hargo.co.id Gorontalo – Pembakaran jerami yang menjadi limbah padi hasil panen beberapa hari belakangan ini marak terjadi di areal persawahan Kota Gorontalo hingga jalan by pass Bone Bolango. Kemarin, Senin (13/11), asap pekat kembali terlihat di wilayah Kelurahan Wongkaditi, Kecamatan Kota Utara.

Pantauan Gorontalo Post, pembakaran jerami ini mengakibatkan kepulan asap yang sangat mengganggu para pengguna jalan maupun warga sekitar. Bukan karena memperpendek jarang pandang, namun dirasakan oleh warga sangat menganggu pernafasan. “Kalau bisa jangan dibakar.

Ada cara-cara lain yang bisa dilakukan dan kami berharap agar Dinas Pertanian bisa membantu untuk mengantisipasi hal ini,” ungkap Syahrial Hamid, seorang pengendara roda dua.

Menurutnya, ada cara yang lebih bagus untuk memusnahkan jerami yang menjadi limbah padi. Bahkan, tambah Syahrial, di beberapa daerah telah dijadikan sebagai bahan untuk bahan bakar bioethanol. “Kalau bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna, kenapa tidak? dari pada harus dibakar seperti ini,” katanya.

Terpisah, Kadis Pertanian Kota Gorontalo, Fitri Bagu, ketika dikonfirmasi secara terpisah mengaku, telah banyak keluhan dari masyarakat akibat pembakaran ini.

Padahal, sejak awal sosialisasi sudah dilakukan kepada masyarakat, khususnya kepada para petani. Namun semua itu hanya habis disosialisasi saja, sementara implementasi dari masyarakat petani sama sekali tidak ada. “Penyuluh sudah turun untuk melakukan pencegahan.

Namun tidak didengarkan oleh para petani. Oleh karena itu, saat ini kami sudah menghubungi pihak Bhabinsa atau pihak TNI untuk bisa membantu. Alhamdulillah pembakaran yang dilakukan oleh masyarakat sudah dipadamkan dan Bhabinsa sudah membantu pula untuk melakukan sosialisasi,” pungkasnya. (kif/hg)