Baru 9 bulan Berumah Tangga, Akhir Drama Penangkapan Pelaku Pencurian Sarang Burung Walet

ANGGOTA Polres Gorontalo Kota saat melakukan olah tempat kejadian perkara kemarin.

Peristiwa penangkapan pelaku pencurian sarang burung walet yang berbuntut tewasnya Ferlin Ntobuo (26) meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, terutama sang isteri, Sri Rahayu Husain (23). Di lain pihak, pihak kepolisian pun berharap kepada pihak keluarga agar melaporkan kejadian nahas itu agar bisa diproses.

Riyan Lagili-Zulkifli Tampolo – GORONTALO

GORONTALO, Hargo.co.id – Tepat pukul 13.00 Wita, Senin (27/11), kediaman Ratna Moha di Desa Hutabohu, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, masih dipenuhi warga yang menggunakan pakaian serba putih. Pasalnya, sekitar dua jam sebelumnya, anak kandung Ratna Moha, Ferlin Ntobuo, baru saja dikebumikan di pemakaman keluarga yang tak jauh dari kediaman tersebut.

Jasad Pei, sapaan akrab korban, dikebumikan pada pukul 11.15 Wita. Kerabat dan keluarga pun berdatangan ke rumah orang tuanya untuk bisa menghantarkannya hingga ke liang lahat. Sejatinya, Ferlin diketahui tinggal di rumah mertuanya di Kelurahan Dulomo, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo.

Sehari sebelumnya, Ahad (26/11), terjadi aksi pencurian sarang burung walet. Terjadi aksi kejar-kejaran untuk menangkap pelaku pencurian. Ferlin, salah satu warga yang ikut tergerak untuk menangkap pelaku akhirnya menemui ajal setelah jatuh dari lantai 3 di lokasi pengejaran. Meski sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong lagi sehingga langsung dijemput oleh pihak keluarga.

Yang paling sedih atas peristiwa nahas itu adalah Sri Rahayu Husain, isteri korban. Pasalnya, mereka berdua baru membina hubungan rumah tangga selama 9 bulan lamanya. Meski belum dikaruniai anak, namun Sri Rahayu Husain sangat terpukul dengan kejadian tersebut.

Perempuan muda yang memiliki cita-cita membangun bahtera rumah tangga yang abadi pun akhirnya menjanda di usia muda. Saking terpukulnya atas peristiwa ini, Sri dirunduk duka yang mendalam. Sri pun belum berhasil ditemui Gorontalo Post. Namun pihak keluarga berharap agar peristiwa ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Ibu korban, Ratna Moha, berharap agar kiranya ada sedikit perhatian dari berbagai pihak karena meninggalnya anggota keluarga mereka dikarenakan ingin menangkap pelaku pencurian.

“Kami tidak berharap banyak, paling tidak ada perhatian untuk keluarga korban yang ditinggalkan,” ungkap Ratna. Keluarga juga meminta agar kiranya para pelaku bisa dihukum seberat-beratnya. “Kami minta kepada kepolisian agar kiranya para pelaku bisa dihukum seumur hidup,” pinta mereka.

Sementara itu, pasca kejadian pencurian sarang burung walet, polisi langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) oleh anggota inavis Polres Gorontalo Kota.

Sementara, 4 orang yang diduga sebagai pelaku tindakan pencurian yakni MZ alias Muh (39) warga Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, RW alias Awin (29) warga Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, OO alias Ola (40) warga Kota Bitung dan PP alias Pols (43) warga Kelurahan Pateten, Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) saat ini masih diamankan di Polres Gorontalo.

Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Yan Budi Jaya,SIK melalui Kasat Reskrim, AKP Tumpal Alexander Siallagan,SIK menjelaskan, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan dan pengembangan terkait dengan kasus ini. Para tersangka baru akan diperiksa sesuai dengan laporan dari korban kasus pencurian.

“Tersangka adalah residivis dari kasus pencurian pula beberapa tahun yang lalu. Meski demikian, hal ini masih akan didalami lagi. Kami masih akan melakukan pemeriksaan secara marathon terhadap para tersangka,” terangnya.

Terkait korban yang meninggal dunia dan patah tulang, Kasat Reskrim berharap agar melaporkan kejadian tersebut sehingga bisa diproses. Apabila benar terjadi penganiayaan, maka pasti akan diselidiki dan nantinya akan berkembang untuk proses penyelidikan selanjutnya.

“Kalau dari interogasi awal kami, tidak ada perkelahian. Oleh karena itu, kami meminta kepada pihak keluarga korban untuk melaporkan kejadian dan menghadirkan 5 orang saksi yang pada saat kejadian melakukan pengejaran di lokasi gedung sarang walet, termasuk korban yang mengalami patah tangan,” pungkas alumnus Akpol 2007 ini.

Sementara itu, Yakub Aswat (35) yang merupakan keponakan dari pemilik usaha sarang burung walet menyatakan, kejadian itu sekitar Pukul 19.00 Wita. Namun pada Pukul 17.00 Wita, para pelaku sudah berulang kali lewat di depan lokasi dan memantau lokasi sarang burung walet. “Sebelumnya, pernah terjadi pula pencurian.

Namun tidak terungkap. Nanti kali ini, anak-anak yang sering bermain tidak jauh dari lokasi, melihat ada orang yang lompat dari pagar. Oleh karena itu, mereka langsung memberitahukan kepada warga, sehingga masyarakat mendatangi lokasi dan membakar mobil para pelaku. Kami berharap agar hal ini bisa diproses oleh pihak Kepolisian, karena sangat meresahkan,” tandasnya.(hargo/asl)