Begini Tata Cara Salat Gerhana Matahari

Ilustrasi Salat Gerhana (foto newshargatop.com)

Hargo.co.id – Ketika gerhana matahari tengah terjadi, umat islam dianjurkan untuk melakukan salat kusuf. Bagaimana sebenarnya kedudukan dan tata cara solat tersebut?

Salat gerhana terbagi menjadi dua yaitu, kusuf dan khusuf. Salat kusuf dilakukan ketika gerhana matahari, yaitu peristiwa di mana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari. Sebaliknya, salat khusuf adalah solat yang dilakukan ketika gerhana bulan terjadi.

Perintah salat gerhana ini terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Ketika itu Aisyah r.a menuturkan bahwa ketika zaman Nabi Muhammad hidup pernah terjadi gerhana matahari dan Beliau kemudian mengimami solat.

Solat kusuf ini dilakukan 2 rakaat, dan dianjurkan untuk memperpanjang sujud dan ruku’. Salat kusuf ini dilakukan dengan cara berjama’ah seperti apa yang dicontohkan Rasulullah.

Ringkasnya, tata cara shalat gerhana sama seperti shalat biasa dan bacaannya pun sama. Berikut urutannya seperti dikutip dari situs Majelis Ulama Indonesia (MUI):

[1] Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan
[2] Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana salat biasa.
[3] Membaca do’a itiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang sambil dikeraskan suaranya.
[4] Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.
[5] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal)
[6] Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama. Suara tidak dikeraskan.
[7] Kemudian ruku’ kembali, yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.
[8] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
[9] Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
[10] Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaannya dianjurkan lebih singkat.
[11] Tasyahud.
[12] Salam.

(Sumber Majelis Ulama Indonesia/Hargo)