Begini Wajah Baru Danau Limboto, Tapi..

MASTER PLAN Pengembangan Danau Limboto yang dilakukan pemerintah. Salah satunya, kawasan ini nantinya bakal disulap menjadi kawasan Pariwisata.

Hargo.co.id GORONTALO -Danau terbesar di Gorontalo itu kini terancam tinggal nama. Luasnya dulu yang mencapai 7 ribu hektar, sekarang tinggal 1.700-an hektar. Begitu pula kedalaman airnya.

Bila pada era 1930-an mencapai 30 meter, saat ini tinggal 2-2,5 meter saja. Beragam ikan khas seperti hulu’u, payangga maupun manggabai yang dulunya melimpah, semakin jarang dijumpai.

Seiring berjalannya waktu, penyusutan area Danau Limboto yang sangat drastis itu salah satunya dipicu oleh sedimentasi, dan untuk pembebenahan di butuhkan dana sebesar 11 triliun. Memang faktor musim yakni kemarau yang berkepanjangan juga turut berkontribusi terhadap penurunan debit air Danau Limboto.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah kerusakan hutan di bagian hulu. Sehingga berdampak terhadap aliran air yang masuk ke Danau Limboto.

Sementara itu penyusutan Danau Limboto tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan/ekologi saja. Lebih dari itu juga ikut berdampak terhadap permasalahan sosial. Terutama bagi para masyarakat sekitar Danau Limboto yang menggantungkan hidupnya di Danau Limboto.

Sejak beberapa tahun terakhir, banyak nelayan Danau Limboto yang harus pulang dengan hasil tangkapan yang hanya cukup untuk dimakan keluarga. Seperti yang dialami salah seorang nelayan Abdullah (60).

Warga Ilotedea, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo mengaku, pendapatan yang diperolehnya saat ini mengalami penurunan. “Apalagi musim kering seperti saat ini. Bila sebelumnya bisa dapat 50 ekor, sekarang hanya sekitar 20 ekor saja,” ungkap Abdullah.

Hal senada juga disampaikan Umar, warga Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Dengan kondisi air saat ini, dia khawatir akan berdampak terhadap pelaku usaha perikanan di Danau Libmoto.