Bertahun-tahun Hidup di Gubuk Reot, Berharap Bantuan Pemerintah

Hadjira Usman yang tinggal digubuk reok, berharap bantuan pemerintah. (Foto: Roy Gobel/hargo)

Limboto, Hargo.o.id – Memiliki rumah idaman adalah menjadi dambaan setiap orang, namun lain halnya dengan nasib yang dialami Hadjira Usman (74) warga Dusun Talapani, Desa Tabongo Barat, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo. Nenek 3 orang anak ini justru tinggal digubuk reot dengan ukuran 2,5 x 3 meter.

Pantauan Hargo.co.id, Gubuk tua berukuran kecil yang berdinding anyaman bambu dan beratapkan daun rumbia yang menjadi tempat tinggal Nenek Hadjira, terlihat seperti layaknya gudang tempat penyimpanan barang-barang.

Dirumah yang hanya memiliki satu kamar ini, hanya dihuni oleh sang nenek dan seorang cucu, sedangkan salah satu anaknya, saat ini berkerja sebagai buruh bangunan di luar kota dan dua orang anak lainnya sudah terlebih dahulu meninggal dunia.

Diruangan kecil inilah Nenek Hadjir tidur dengan beralaskan tikar kusam. (Foto; Roy Gobel/Hargo)

Dirumah ini pula tidak terlihat barang-barang rumah tangga yang istimewa, bahkan ranjang untuk tempat tidurpun tidak terlihat disitu. Sedangkan kamar yang seharusnya untuk tempat tidur, dijadikan tempat titipan penyimpanan alat dan hasil pertanian milik orang lain.

Sementara untuk tidur, sang nenek bersama cucunya terpaksa tidur disalah satu ruangan yang berukuran 1 x 1 meter dengan beralaskan tikar kusam. Kondisi atap rumah yang bocor dan sering basah jika diguyur hujan, menjadi kendala bagi keluarga ini. Namun meski demikian, tak ada pilihan lain bagi mereka.

Dirumah yang terkesan tidak layak huni ini, perempuan yang bekerja sebagai buruh musiman ini, menghabiskan masa tuanya bersama seorang cucu tersayang dengan kondisi kehidupan yang serba kekurangan.

Saat ditemui dikediamannya Sabtu, (22/4), Nenek ini mengaku, sejauh ini dirinya belum pernah menerima bantuan dari pemerintah daerah. Bantuan yang diterima hanyalah berupa bantuan Raskin, itupun harus dibayar.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia hanya mengandalkan sisa-sisa tenaganya untuk mencari nafkah dengan cara menerima upah sebagai buruh keliling. Dari penghasialannya yang rata-rata Rp. 30.000 – Rp. 50.000 ini, digunakan untuk membeli keperluan makan sehari-hari.

” Sampai hari ini kami belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Jangankan bantuan rumah, bantuan lainnya pun kimi tidak pernah menerimanya. Selamaa ini, bantuan yang ada hanya berupa Raskin, itupun harus dibeli. Jadi kalau tidak punya uang, kami terpaksa tidak bisa menerima raskin.” Kata Hadjira

Lebih lanjut Hadjir menambahkan, penghasilan yang diperolehnya bersama sang cucu, terkadang belum bisa memenuhi kebutuhan setiap hari, bahkan untuk makan saja, terkadang harus dibantu oleh para tetangga. Sehingganya ia sangat berharap adanya bantuan dan perhatian pemerintah daerah.

” Kami sangat berharap perhatian pemerintah untuk bisa meringankan beban kami,” tandasnya.

Kondisi kehidupan keluarga Hadjira, adalah gambaran kecil masyarakat kurang mampu yang ada di Kabupaten Gorontalo. Upaya Pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan harus benar-benar terwujud dan bukan hanya slogan saja.

Pemerintah setempat bersama instansi terkait diminta untuk lebih proaktif dalam memperhatikan kondisi kehidupan masyarakat di daerah ini, khususnya kepada mereka yang masih membutuhkan sentuhan bantuan dari pemerintah.(rvg/hargo)