Bisnis Beras, Siapa Yang Diuntungkan

Pola Distribusi Beras Di Provinsi Gorontalo.

Hargo.co.id GORONTALO – Beragam spekulasi terkait melambungnya harga beras di Gorontalo. Ada yang menyebutkan bahwa kenaikan harga beras salah satunya disebabkan oleh permainan spekulan hingga mata rantai penjualan.

Nah, belum lama ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo membeberkan hasil survey rentetan penjualan beras di Gorontalo, mulai dari petani, distributor hingga ke konsumen akhir.

Dari data survey BPS 2015, hanya dua daerah yang memasok beras ke Gorontalo, Masing-masing Jawa Timur (Jatim) sebesar 15,61 persen dan Sulawesi Tengah (Sulteng) sebesar 0,06 persen dari kebutuhan.

Sisanya, 84,33 persen kebutuhan beras berasal dari produksi lokal. Dari total kebutuhan beras, sebanyak 99,79 persen beredar di Gorontalo. Sedangkan sisanya, sebesar 0,21 persen, di jual ke wilayah Sulawesi Utara (Sulut).

Maklum, menurut sebagian pedagang, harga beras di wilayah Manado dan sekitarnya masih lebih tinggi dari harga Gorontalo.

Bicara pola distribusi berdasarkan hasil survey dari perusahaan penggilingan padi di Provinsi Gorontalo, bahwa ada sekitar 75,27 persen beras dipasarkan melalui pedagang eceran, kemudian pedagang grosir sebesar 11,54 persen, rumah tangga sebesar 5,58 persen dan pedagang pengumpul 4,61 persen.

Sementara itu, pola distribusi perdagangan beras di provinsi Gorontalo yakni berasal dari produsen yakni perusahaan penggilingan dan distributor.
Kemudian melewati agen, pedagang grosir, pedagang eceran, supermarket, kemudian ke konsumen akhir yakni rumah tangga, industri pengolahan dan kegiatan usaha.

Bicara soal keuntungan, dari hasil survey BPS terhadap marjin perdagangan dan pengangkutan (MPP), bahwa pedagang eceran yang paling besar meraup keuntungan sebesar 16,08 persen, setelah dikurangi biaya transportasi,
“Harga beras sekarang berapa ? Dari Rp 10 Ribu sampai Rp 11 Ribu per kilogram ‘kan ? Jadi, harga beras yang sebenarnya dikurangi saja 16,08 persen dari keuntungan tadi,” jelas Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Eko Marsoro dalam keterangan persnya, belum lama ini.

Meski demikian, BPS Gorontalo belum mengeluarkan data perubahan harga beras. Namun secara nasional, tidak jauh berbeda dengan kondisi lokal.
Secara presentase, perubahan harga ditingkat petani gabah sebesar 0,10 persen, beras di penggilingan sebesar 0,77 persen, beras grosir sebesar 0,99 persen dan beras eceran 0,43 persen.

Jadi, bisa ditaksir siapakah yang menikmati keuntungan dari bisnis beras ini.
Usman, salah seorang pemilik usaha gilingan di wilayah Boliyohuto mengatakan, biasanya pedagang besar mengambil beras, dirinya mendapat keuntungan rata-rata berkisar Rp 25 Ribu per kolinya.

Kemudian pedagang besar tersebut menjualnya ke pedagang eceran. “Jadi, kalau harga beras Rp 500 Ribu, kita jual Rp 525 Ribu atau dibulatkan Rp 530 Ribu. Saya tidak tau kalau pedagang besar menjualnya berapa ke pedagang eceran,” tuturnya.(axl/hargo)