BPDAS Bangun Lahan Pertanian Lewat Sistem Agroforesty

BPDAS bersama petani mulai menggarap lahan kering dengan menggunakan metode pengolahan berbasis konservasi air dan tanah di Desa Daenaa, Keamatan Limboto Barat. (Foto: Roy Gobel/Hargo)

Limboto, Hargo.co.id, Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Bone Bolango, Propinsi Gorontalo saat ini sedang mengembangkan metode pengelolaan lahan pertanian berbasis konservasi tahan dan air berupa penanaman imbuhan mata air dalam bentuk teras guludan atau agroresty yang berlokasi di Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.

Metode pengelolaan lahan pertanian seperti ini, selain memudahkan para petani dalam mengolah tanaman pertanian khususnya yang berada dilahan miring, juga dengan sistim ini diyakini dapat menekan laju erosi yang selama ini menjadi ancaman bagi masyarakat serta lingkungan.

Kepala Balai Pengololaan DAS Bone Bolango, Propinsi Gorontalo M. Tahir menjelaskan metode pengolahan lahan kering dengan sistem Agroforesty ini merupakan salah satu model pengolahan tanaman pertaniaan yang ramah lingkungan dan dikhususkan bagi lahan kering dengan kemiringan hingga 45 derajat.

Sedangkan model yang diterapkan adalah dengan membuat imbuhan mata air dalam bentuk teras guludan. Dimana pada lokasi lahan miring yang akan diolah dibuatkan seperti teras, sehingga para petani dapat dengan mudah mengolah tanaman pertaniannya diantara deretan teras tersebut. Dan hal ini juga sangat menguntungkan bagi para petani.

Menurut M.Tahir, Dalam mewujudkan program yang berpihak pada patani ini, pihak BPDAS juga melibatkan unsur masyarakat dalam membuat model pengolahan tanaman pertanian ini, sehingga sejak dilakukan sosialisasi sampai dengan pengolahannya, sudah ada sekitar 50 hektare imbuhan mata air yang telah dibuat.

” Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang pengolahan tanaman pertanian berbasis konservasi tanah dan air, dan kami bersyukur masyarakat disini memberikan respon positif dengan adanya program ini.” Kata M. Tahir

Lebih lanjut dirinya mengatakan dengan adanya metode ini, para petani diwajibkan untuk menanam tanaman keras seperti Mahoni, Jabon dan tanaman keras linnya, setelah itu barulah bisa menanam jagung, sayur-syuran dan buah-buahan diantara tanaman pohon yang ada. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) serta menekan tingkat erosi yang juga berdampak pada tingginya sedimentasi di wilayah Danau Limboto.

Petani yang menggarap lahan miring sedang melakukan penanaman pohon dengan menggunakan sistim agroforesty

Menurutnya Kondisi DAS yang ada di Gorontalo saat ini, sudah sangat kritis dan perlu ada perhatian serius untuk mengatasinya. Berdasarkan data yang ada, dari 90.029 ha luas DAS Limboto, terdapat 39.203 ha atau sekitar 43% lahan kritis. Dengan data tersebut maka konsis DAS di Daerah ini sudah m

asuk dalam datar 5 DAS rawan bencana secara Nasional,dan masuk dalam 15 DAS prioritas Nasional.

Tidak sampai disitu, Kondisi Danau Limboto yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, menyebabkan Danau Limboto juga masuk dalam daftar 15 Danau prioritas Nasional.

” Melihat kondisi DAS Limboto yang kritis saat ini, maka kami berharap adanya partisipasi masyarakat dalam mengatasi masalah ini. Dengan menerapkan metode agroforesty diharapkan juga bisa menjadi solusi untuk menekan angka kerusakan lingkungan,” Tambah M. Tahir.

Sementara itu, salah satu ketua kelompok tani Abdul Karim Hengua yang turut serta dalam kegiatan ini, menyatakan sangat mendukung dengan adanya program pengolahan pertanian berbasis konservasi air dan tanah ini. menurutnya dengan metode ini petani bisa memetik keuntungan dari hasil pertaniannya.

” Tentu Kami sangat mendukung dengan metode pertanian seperti ini, dengan begitu kami juga bisa memahami cara pengolahan tanaman pertanian dengan aman dan menguntungkan.” Ujarnya.

Karim juga berharap, pemerintah daerah bisa memberikan perhatian dan dukungan terhadap aktiitas petani dalam menjalankan metode pertanian seperti ini, dengan cara memberikan bantuan berupa bibit-bibit tanaman, serta pupuk. (rvg/hargo)