Cerita Tiga Perempuan WNI Bersaudara yang Bergabung dengan ISIS

0
TIDAK PASTI: Para perempuan ISIS dengan anak-anak mereka. (Adam Doby/CNN)

Hargo.co.id – Dia janda anggota ISIS. Perempuan Prancis yang kerap bermimpi berada di Mediterrania sambil berjemur pakai bikini. Rekannya, seorang guru bahasa Inggris di Syria yang berasal dri Homs, Syria. Dia mengaku akan pergi ke Turki ketika kemudian terjebak di Raqqa, Syria, dan jatuh cinta dengan militan dari Marokko.

Selain keduanya, ada juga tiga saudara perempuan asal Indonesia. Perempuan dari Indonesia itu mengaku tergoda datang ke Raqqa, kota Kalifah ISIS, dengan janji kesehatan dan pendidikan gratis.

Dan semua perempuan-perempuan itu bersikeras kalau mereka shock dan terkejut begitu mengetahui ISIS sebenarnya. Digoda dengan kehidupan yang lebih baik, sekarang mereka terjebak di negara konflik dan tanah kelahiran mereka mungkin tidak mau lagi menerima para perempuan-perempuan ini.

BERHARAP SELAMAT: Salah satu penghuni kamp pengungsian di  Ain Issa.

BERHARAP SELAMAT: Salah satu penghuni kamp pengungsian di Ain Issa. (Adam Doby/CNN)

Salah satunya Saida, perempuan asal Montpellier, Prancis. Saida, sama seperti janda-janda ISIS lain mengaku harus membayar sogokan biar bisa keluar Raqqa. Dan menunju Ain Issa, sekitar 50 km Raqqa untuk menyelamatkan diri. ”Saya cinta hidup saya. Saya cinta celana jeans, make-up, dan orang tua,” katanya. ”Saya ingin pulang, mengambil mobil saya, dan berpergian lagi,” katanya.

Salah seorang perempuan asal Indonesia yang berada di sana adalah Difansa Rachmani. Dia datang ke Raqqa dengan alasan ksehatan. Ibu tiga anak itu melakukan perjalanan ke Syria pada pertengahan 2015. Dua bulan setelah Kalifah dideklarasikan. ”Saya dijanjikan akan dioperasi gratis untuk penyakit kanker saya,” katanya.

ISIS juga menjanjikan untuk membantu anaknya yang autis dan belum bisa berjalan meski sudah berusia tiga tahun. Difansa mengaku mendapatkan tawaran itu dari situs di Internet. Memang, begitu sampai Raqqa, ISIS merawat penyakitnya. Dan anak lelakinya juga bisa berjalan ketika mereka ke Mosul untuk mendapatkan perawatan.

Difansa tidak datang sediri. Dia bersama keluarga lain, termasuk dua adiknya, Nur Kharadhania, 19, dan Syarafina Nailah, 21. Total ada 17 orang. Sembilan perempuan, lima lelaki, dan tiga anak. Untuk mencapai Raqqa, mereka terbang dari Jakarta dan membayar banyak sogokan agar perjalanan itu mulus. Mereka hendak menjalani kehidupan baru di Raqqa.

Tetapi, semua itu berbalik arah ketika para lelaki dari kelompoknya menolak menjadi pejuang. Mereka pun melarikan diri. Saat ini, para lelaki sedang menjalani interogasi oleh intelejen Kurdi di Kobane. Dan para perempuan dan anak-anak menanti di Ain Issa.

Nur menceritakan, dia dijanjikan gaji besar dan akan diberikan rumah besar untuk keluarga. Tetapi janji tinggal janji. Mereka meninggalkan Raqqa 23 hari yang lalu, terutama setelah serangan intensif dilayangkan Syria ke Raqqa. Ketiga perempuan itu sepakat dan merasakan hal yang sama. Jijik dengan kenyataan kalau para anggota ISIS itu terobsesi dengan perempuan.

Mereka dimasukkan dalam list perempuan single dan ditawari pernikahan oleh banyak lelaki asing. Tawaran datang pagi dan harus di jawab malam. Mereka sangat kecewa setelah mengetahui kalau ISIS bukan Islam “asli”. ”Mereka mengatakan akan jihad atas nama Allah. Tetapi, yang mereka inginkan hanya perempuan dan seks. Sangat menjijikkan,” kata Difansa.

Nur mengatakan kalau dia juga shock dengan tingkah laku para perempuan ISIS yang berada di Raqqa. ”Mereka sangat-sangat jauh dari Islam. Mereka kasar, suka menggosip, berteriak satu sama lain, bahkan berkelahi,” katanya.

Saat ini, ketiga saudara perempuan itu berusaha mendapatkan kontak kedutaan Indonesia dan pulang. Tetapi, tidak jelas apakah para perempuan ini akan diizinkan keluar Syria dan pulang. (CNN/newssky/tia/JPC/hg)