Desa di Kabupaten Gorontalo Ini Darurat DBD, 9 Warganya Positif

Foging yang dilakukan petugas kesehatan di salah satu rumah warga. (foto Natha/Gorontalo Post)

Hargo.co.id LIMBOTO – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Luwoo, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo memerlukan perhatian serius.

Sebab, jumlah penderita terus bertambah. Hingga Kemarin, (19/1), warga yang positif mengidap DBD sudah mencapai 9 orang.

Kepala Desa Luwoo Junus Saidi Hako mengatakan, maraknya penyakit DBD yang menyerang masyarakatnya telah mendapat perhatian serius dari pemerintah dan petugas kesehatan setempat.

“Sudah ada sosialiasi dan penanganan DBD. Kondisinya saat ini, masyarakat sakit sedikit langsung ke rumah sakit walaupun mereka belum tahu penyakitnya. Itu karena khawatir DBD,” kata Junus Saidi.

Sepekan ini lanjut Junus dalam rangka penanggulangan DBD, pihaknya menggelar Pemberantasan Sarang Nynamuk (PSN) sampai dengan Fogging (Penyemprotan). Namun hal ini tak menjamin, sebab jumlah warga yang terkan DBD tetap bertambah.

“Yang dibutuhkan bukan hanya langkah. Salah satu faktor warga di Luwoo terserang DBD karena kurang menerapkan PHBS,” jelasnya.

Survelen Puskesmas Telaga Jaya, Novan Nisar Harun mengatakan, kasus DBD memang lagi maraknya di Gorontalo, termasuk di Desa Luwoo. Menurutnya Puskesmas Telaga Jaya setiap harinya penuh dengan kunjungan warga yang datang memeriksakan kondisi kesehatannya.

“Ada yang positif DBD, ada juga yang tidak. Sesuai pemeriksaan Laboratorium di Desa Luwoo ada 9 warga yang positif,” katanya.
“Pasien DBD yang intensitasnya tergolong parah, langsung dirujuk ke RS MM Dunda Limboto,” sambungnya.

Merebaknya penyakit DBD di Gorontalo saat ini sudah sejatinya menjadi perhatian serius warga agar dapat intens melakukan 3 M (Menguras, menutup, Mengubur). Selain tindakan 3 M, warga juga pelu sering melakukan fogging (Penyemprotan) agar dapat keluarga bisa lebih terlindungi dari DBD.

Seperti halnya yang dilakukan Warni, yang juga warga Luwoo. Ia rajin melakukan 3 M di rumahnya. Bahkan, hampir setiap hari, ia menyemprot rumahnya untuk membunuh sarang nyamuk.

“Satu tahun lalu ta pe anak pernah ke lari ka rumah sakit gara-gara DBD. Adoh, biar nanti pol deng asap ta pe rumah asal tidak ada nyamuk. Torang so trauma dengan DBD,” kata Warni. (tr-48/hargo)

About Admin Arifuddin

Senang menulis dengan nuansa kesederhanaan

View all posts by Admin Arifuddin →