DKPP : Penetapan KLB Anthrax Jika Telah Menyerang Manusia

CEGAH ANTRHAX - Pelaksanaan vaksinasi terhadap 75 ekor sapi di Desa Pentadio, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, kemarin, (19/4). (FOTO : Apin/gorontalo post)

Hargo.co.id GORONTALO – Wabah anthrax yang terus meluas di Kabupaten Gorontalo, sepertinya tak sampai pada penetapan kejiadian luar biasa (KLB) anthrax. Pemerintah Kabupaten Gorontalo hanya menetapkan wilayah mereka sebagai daerah wabah antrhrax.

Hal ini sesuai dengan surat keputusan (SK) Bupati Gorontalo. Dengan ditetapkannya Kabupaten Gorontalo sebagai daerah wabah antrhrax, maka penangangan anthrax ini pun sudah dilakukan secara lintas sektor.

“Kita tidak menetapkan anthrax sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB),” kata kepala dinas kelautan perikanan dan peternakan (DKPP) Kabupaten Gorontalo Haris Tome, kemarin, (19/4).

Ia beralasan, selain merupakan wewenang Kementrian, penetapan KLB ada beberapa pertimbangan lain. Pertama, belum ditemukannya efek negatif apalagi korban jiwa akibat wabah anthrax ini sekaligus kepada warga di Telaga Biru yang telah memakan daging antrax tersebut.

Kedua, penetapan KLB juga bisa mengancam aktivitas perekonomian para peternak di Kabupaten Gorontalo. “Tidak sembarangan menetapkan anthrax KLB. Bagaimana nantinya dengan para peternak. Kasihan, walau pun sapi mereka sehat, sudah tidak bisa lagi di jual kemana-mana. Karena nantinya semuanya akan di isolasi.

Lagi pula penetapan KLB itu kalau sudah menyerang manusia. Ini kan belum ada,” tutur Haris.
Selain itu lanjut Haris kasus Wabah Anthrax yang terjadi di Kabupaten Gorontalo ini benar-benar membantah teori tentang efek anthrax pada manusia.

Sesuai teori jika ada yang memegang sapi tak lama akan membengkak, apalagi yang memakannya. Namun nyatanya warga yang memotong sapi positif anthrax, berikut mereka yang memakannya sampai saat ini sehat-sehat saja.

“Padahal jelas cukup seminggu, mereka yang terserang anthrax bisa sakit parah bahkan meninggal. Tapi di Kabupaten Gorontalo hal itu terbantahkan,” jelasnya.
Keanehan ini pun kata Haris diakui oleh ahli peternakan .

Bahkan, peneliti dari Universitas Wignen Netherlands Belanda tersebut tak bisa menyimpulkan kondisi anthrax di Kabupaten Gorontalo, termasuk penyebarannya yang harus bersentuhan dengan sapi anthrax lainnya.

Padahal, sapi yang terserang anthrax adalah sapi lokal bukan dari daerah yang pernah ada wabah anthrax. “Yang bisa beliau simpulkan sementara adalah wabah ini berasal dari tanah karena aktivitas pengerukan,” ungkap Haris.

Meski begitu lanjut Haris, pihaknya berupaya maksimal untuk menanggulangi masalah ini. Sebab, dikhawatirkan sapi-sapi dari para peternak akan ikut terserang.
“Makanya yang kita lakukan adalah intens turun lapangan dan melakukan vaksinasi, berikut memantau pelaksanaan isolasi sapi di sejumlah desa yang sudah ditemukan anthrax ini,” jelasnya.

Kemarin, (19/4), proses vaksinasi wabah anthrax ini dilakukan DKPP di Desa Pentadio Timur. Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Ada sekitar 75 ternak milik warga setempat yang mendapat vaksin.
dokter hewan dari DKPP Kabupaten Gorontalo Asri mengatakan, setelah vaksinasi di Desa Pentadio tersebut maka sudah 320 sapi yang divaksin serta 200 sapi yang dilakukan pengobatan. (and/tr-54/hargo)