Escape From The School Routines! 

ilustrasi bolos sekolah

Hargo.co.id – Aturan sangat ketat yang dibuat oleh sekolah, nggak begitu saja membuat para siswa dengan mudah untuk tidak melakoni peran mereka sebagai penyandang bolos. Yup, lari dari kenyataan karena bosan dengan suasana sekolah, takut sama guru killer, dan pelajaran yang nggak menarik menjadi alasan jitu mereka. Memang ada waktunya dimana kita akan merasakan jenuh dan bosan berada disekolah. Maka dari itulah akhirnya short escape dari rutinitas sekolahpun jadi pilihan mereka untuk sejenak melepaskan beban tersebut.

Eits, buat para bolos addict jangan senang dulu. Teknologi yang semakin canggih kini juga telah mempermudah pemerintah dan pihak sekolah di kota-kota besar untuk mengurangi bolos loh. Ada beragam cara yang berhasil diterapkan melalui teknologi untuk menekan jumlah aksi bolos para siswa.

Seperti sistem fingerprint untuk mendeteksi siswa yang bolos. Fingerprint dapat langsung terhubung dengan jaringan informasi bersama antarsekolah (JIBAS). dan ternyata sistem ini ampuh untuk menekan jumlah siswa yang bolos. Setelah presensi, otomatis wali murid mendapatkan SMS pemberitahuan jam kedatangan siswa.

Selain itu, ada juga sistem smart school yang diberi nama Edubox. Dengan sistem ini siswa yang bolos dapat dipantau lewat smartphone. Yup, bintang utama Edubox adalah fitur antimabal atau aplikasi antibolos. Sebab, guru dan orang tua dapat dengan mudah mendeteksi keberadaan siswa melalui GPS yang tersambung dengan server di sekolah.

Wah, kalau kalian bolos bisa langsung ketahuan tuh! Nah, pastinya beda jaman beda juga cara dan alasan kalian bolos bukan? Kira-kira gimana sih perbedaan fenomena bolos zaman dulu dan sekarang? Yuk simak perbedaan ke dua generasi tersebut dengan berbagai alasan mereka! (ZT-06/hargo)

Hukuman Berat Kalau Ketahuan
(Responden kelahiran tahun 1990-2000)

Dari survei yang dilakukan tim Zetizen, ternyata fenomena bolos emang ada sejak zaman dulu. Tujuh di antara sepuluh responden kelahiran 1990–2000 pernah membolos karena ada urusan mendadak seperti acara keluarga. Bukan hanya itu,perkembangan hiburan di Indonesia yang pesat pada era tersebut ternyata juga jadi alasan mereka buat absen dari sekolah.

Nggak cukup sendirian, mereka ternyata memilih bolos berjamaah bareng teman satu geng. Mereka biasanya langsung bolos dari rumah dengan dijemput atau janjian sama teman, lalu ketemuan di satu spot. Ada juga yang udah berada di sekolah dan memilih bolos dengan melompati pagar sekolah.

Dapat hukuman nggak sih kalau ketahuan orang tua? Nah, empat di antara sepuluh responden dimarahin habis-habisan kalau ketahuan bolos sekolah. Ada yang disuruh bersih-bersih rumah, dikurung di rumah seharian, bahkan ada yang nggak dikasih uang jajan selama seminggu loh! That’s why, mereka berusaha bolos secara diamdiam alias nggak izin orang tua.

Makin Berani karena Diizinkan
(Responden kelahiran di atas 2000)

Zaman sekarang teknologi dan internet emang jadi sumber hiburan paling mudah dan murah. Jadi, nggak ada lagi deh alasan bolos sekolah gara-gara pengin nonton acara musik. Sebab, mereka bisa dengan mudah menontonnya lewat streaming. Tapi, kemudahan internet itu ternyata justru bisa bikin pelajar jadi khilaf loh. Dari beberapa kasus pada 2014 tentang pelajar yang terjaring razia satpol PP. Mereka ketahuan bolos sekolah karena main game di warnet.

Selain internet, beberapa Zetizen memilih bolos karena nggak mengerjakan tugas dan menghindari omelan guru. Bahkan, mereka jujur ke orang tua hingga meminta tolong untuk dibuatkan surat izin ke sekolah. Yap, berbeda dengan responden pada era sebelumnya, orang tua pada era tersebut lebih bersikap terbuka dan nggak serta-merta memberikan hukuman. Guru killer sampai sekadar mood jelek jadi alasan Zetizen pada era itu buat nggak datang ke sekolah.

Hukuman dari sekolah Zetizen pada era itu adalah mendapatkan poin pelanggaran. Makin banyak poin yang didapat, makin besar hukumannya. Mulai surat peringatan yang dikirim kepada orang tua hingga dapat skors kalau bolos berhari-hari.

KATA MEREKA TENTANG BOLOS SEKOLAH :

Dewi Oktavia
Poltekes Gorontalo

Bolos untuk ke Pantai

Dulu waktu masih SMP pernah bolos sekolah karena tidak ada jam pelajaran. Waktu itu kegiatan di sekolah hanya kerja bakti dan bersih-bersih. Jadi aku dan beberapa teman-teman memutuskan untuk bolos sekolah dan pergi ke Pantai yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah. Sebenarnya, bolos adalah hal yang menyenangkan, apalagi dengan pergi ke pantai,jadinya bisa refreshing dan bersenang-senang. Jadi menurutku bolos boleh saja, asal sedang tidak ada kegiatan belajar-mengajar. (ZT-08)