Golkar Ultimatum Marten-Thomas, Desember Sudah Harus Ada Pasangan

Ilustrasi

GORONTALO, Hargo.co.id – DPD I Golkar Gorontalo mengingatkan dua jagoan partai yang akan bertarung di Pilwako Gorontalo dan Pilkada Gorontalo Utara (Gorut) 2018, masing-masing Marten Taha dan Thomas Mopili agar tidak berlarut-larut dalam proses pencarian pasangan. Mengingat tahapan pendaftaran pasangan calon makin dekat.

Sesuai tahapan Pilkada, pendaftaran pasangan calon kepala daerah akan mulai dibuka KPU pada 8 Januari 2018.

“Deadlinenya Desember. Masing-masing sudah harus menentukan siapa wakilnya,” tegas Sekretaris DPD I Golkar Gorontalo Paris Jusuf saat dimintai tanggapan terkait penundaan penetapan calon Gorontalo oleh DPP.

Sebagaimana rekomendasi DPP Golkar sebelumnya, Marten Taha yang merupakan Ketua DPD II Golkar Kota Gorontalo ditetapkan menjadi calon walikota partai Golkar di Pilwako. Sementara Ketua DPD II Golkar Gorut Thomas Mopili ditetapkan menjadi calon bupati Golkar di Pilkada Gorut.

Paris Jusuf mengemukakan, partai menyerahkan sepenuhnya keputusan penentuan pasangan ke Marten Taha dan Thomas Mopili. Karena pasangan calon yang akan diusung partai di Pilkada, harus memiliki kecocokan satu sama lain.

“Karena kalau nanti menang, pasangan akan bersama-sama bekerja untuk memimpin daerah selama lima tahun mendatang,” tambah Paris Jusuf yang merupakan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo itu.

Lebih jauh Paris Jusuf mengaku bisa memaklumi bila hingga penetapan pasangan calon oleh DPP beberapa hari lalu, Marten Taha dan Thomas Mopili belum menentukan pasangan. Sehingga itu menjadi alasan DPP menunda penetapan pasangan calon untuk Golkar Gorontalo.

Menurut Paris, eskalasi politik Pilwako dan Pilkada Gorut yang sangat dinamis dalam beberapa waktu terakhir, membuat Marten Taha dan Thomas Mopili harus merumuskan kembali strategi jitu untuk pemenangan pilkada.

“Di Pilwako kan belakangan muncul pasangan baru. Begitu juga dengan Pilkada Gorut. Ini tentu harus masuk dalam kalkukasi politik. Bagaimana langkah taktis yang harus dilakukan untuk memperbesar kemenangan di Pilkada,” jelasnya.

“Apalagi untuk Pilwako, lawan politik yang akan dihadapi adalah mantan walikota yang sudah berpasangan dengan wakil walikota. Makanya semua hal harus dihitung dengan cermat,” jelasnya.

Marten dan Thomas menurut Paris, memang harus bisa mencari pendamping yang tepat. Yaitu figur pendamping yang akan memperbesar peluang kemenangan di Pilkada. Bukan sebaliknya. Mengingat ketokohan calon menjadi salah satu kunci sukses untuk bisa mengantar kemenangan calon.

“Jangan sampai pendamping yang dipilih malah akan menurunkan elektabilitas. Bukan justru menaikkan survei. Ini yang membuat Marten dan Thomas harus sangat selektif dalam menentukan figur pendamping di Pilkada,” pungkasnya. (rmb/hargo)