Gorontalo Share 0,25 Persen Perekonomian Nasional

Seorang petani menata hasil panen jagung di Desa Jenengan, Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (17/1). Menurut petani, harga jagung untuk saat ini mengalami penurunan dari Rp. 2000 menjadi Rp. 1200 per kilogram, penurunan harga ini dikarenankan masa panen yang bersamaan dibeberapa daerah, membuat persaingan harga jagung turun. ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho/ss/pd/15.

GORONTALO, Hargo.co.id – Perekonomian Gorontalo 2017 tercatat tumbuh 6,74 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Nasional yang tercatat sebesar 5,07 persen. Meskipun begitu, Gorontalo jangan cepat berpuas diri. Pasalnya, share pertumbuhan ekonomi Gorontalo terhadap perekonomian Nasional hanya sebesar 0,25 persen.

“Memang sudah seharusnya Gorontalo harus berada pada level pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan itu harus dijaga. Sebab, jika pertumbuhan ekonomi kita kurang, maka bisa dikejar oleh daerah lainnya,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Eko Marsoro, dalam sebuah kesempatan, belum lama ini.

Dia mengatakan, jika dilihat dari besaran Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), Provinsi Gorontalo menempati urutan kedua dari bawah terhadap PDRB di seluruh Indonesia. Pada 2017, PDRB Gorontalo tercatat sebesar Rp 29,57 Juta per Kapita atau senilai US$2.209. Sedangkan PDRB urutan paling bawah setelah Gorontalo adalah Provinsi Maluku Utara (Malut) Rp 26,69 Juta per Kapita.

Padahal, Provinsi Malut tercatat menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi Nasional 2017 dengan 7,67 persen, diikuti dengan Sulawesi Selatan 7,23 persen. “Jelas kalau kita lihat dari skala PDB (Pendapatan Domestik Bruto), Gorontalo jika dengan Nasional itu beda level. Makanya, kita salah kalau terus terlena,” tambah Eko Marsoro.

Untuk itu, kata Eko, memang sudah seharusnya pemerintah harus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah, terutama pada sektor pertanian dan investasi. Pasalnya, kata Eko, tahun ini akan ada program untuk pelarangan penanaman jagung pada kemiringan tertentu. Jelas, program tersebut akan mempengaruhi total luas tanam jagung di Gorontalo. Berkaca pada 2017, produksi jagung turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dari sisi produksi. “Itu merupakan sebuah tantangan pada 2018,” pungkasnya.(axl/hg)