Harga Anjlok dan Terserang Hama, Petani Cabai di Ternate Merugi

Petani cabai di Kecamatan Pulau Ternate memeriksa tanaman cabainya yang rusak karena penyakit. (Dok.Malut Post/JPG)

Petani cabai di Kecamatan Pulau Ternate memeriksa tanaman cabainya yang rusak karena penyakit. (Dok.Malut Post/JPG)

Hargo.co.id – Petani cabai di Kota Ternate mengalami kerugian yang cukup besar. Selain harga komoditas ini turun, kondisi diperburuk dengan tanaman yang diserang penyakit. Kepada Malut Post, petani cabai di Kelurahan Kastela Pulau Ternate, Dahlan Kharie mengatakan, dia mengalami kerugian karena harga harga cabai yang biasanya Rp 50 ribu turun menjadi Rp 30 ribu per kilogram. Selain itu, tanamannya diserang penyakit cacar dan cabai kering.

“Kita sudah keluarkan tenaga, beli pupuk dan sebagainya, namun tanaman rusak terkena penyakit dan harganya juga anjlok,” keluh Dahlan sebagaimana dilansir Malut Post (Jawa Pos Group), Senin (4/12).

Penyebabnya antara lain karena curah hujan yang tinggi, tanah yang bermasalah dan bibit yang kurang bagus. “Petugas sudah datang mengambil sampel tanah untuk diteliti, namun hasilnya hingga saat ini belum diketahui,” tuturnya.

Dia menjelaskan biasanya 6.000 cabai nona yang ditanam hasilnya 3 – 6 ton sekali panen, namun saat ini paling tinggi 1 ton. “Bahkan panen terakhir hanya 10 kilogram,” akunya.

Dahlan mengaku kerugiannya mencapai Rp 40 juta. Rencananya dia akan memotong habis tanaman cabai nona, dan menggantikan dengan tanaman baru. Namun yang ditanam adalah cabai rawit. “Selama ini saya usaha sendiri, belum mendapat bantuan dari pemerintah,” pungkasnya.

Aminah, petani lainnya di Kastela juga mengalami hal yang sama. Selain karena harga, cabai nona miliknya juga diserang penyakit yang sama. Dia juga mengaku teman-temannya di Kelurahan Dorpedu nasibnya serupa, merugi karena hal yang sama.

“Kita jual di pasar Rp 40 ribu, namun pedagang menawar antara Rp 30 ribu – Rp 35 ribu per kilogram. Kami terpaksa melepas dengan harga itu, pasrah saja,” ujar Aminah.

Karena tanamannya rusak maka panen terakhir hanya 8 kilogram. Biasanya jika tanaman tidak rusak, maka setiap panen hasilnya hingga 15 kilogram.

(nas/jpg/JPC/hg)