Harga Semakin Melambung Tinggi, Pemda Enggan Operasi Pasar

suasana pasar tradisional.(ilustrasi)

Hargo.co.id GORONTALO – Melonjaknya sejumlah harga komoditi di pasar-pasar tradisional membuat warga mulai merasakan dampaknya.

Warga pun mulai menyuarakan agar pemerintah daerah segera turun melakukan intervensi.

Namun sayangnya, pemerintah melalui instansi terkait rupanya masih enggan melakukan operasi pasar dalam waktu dekat ini.

Sejumlah harga kebutuhan pokok mulai meningkat, belakangan ini. Dan kenaikan harga komoditi yang paling dirasakan dampaknya oleh warga adalah tak terkendalinya harga cabe rawit atau rica.

Meski diklaim oleh sejumlah pedagang saat ini harganya sudah berangsur-angsur turun, namun banyak warga, terutama ibu-ibu, yang mengaku kenaikannya sudah diluar batas kemampuan mereka.

Yulianti Mile, warga Kelurahan Bolihuwangga Kecamatan Limboto, misalnya. Dia mengaku kenaikan harga rica sangat menguras uang belanjanya setiap minggu.

Bahkan, ibu dua anak yang memiliki warung makan ini harus mengurangi ongkos produksi dagangannya karena mengimbangi harga rica yang terlampau tinggi.

“Biasanya, saya beli 1 sampai 2 Kg (untuk warung makan,red). Itu biasanya habis 3 hari. Tapi sekarang, saya mau beli 1 Kg mahal sekali.

Kemarin (Sabtu), harganya (di pasar rakyat Limboto,red) masih Rp 90 Ribu per Kg,” ungkap Yuli.

Pasalnya, dia mengaku dilematis karena dagangan makanan siap saji miliknya kerap disajikan dengan sambal dabu-dabu.

“Kalau tidak ada sambal, saya punya langganan mo protes,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Mia. Warga Limboto yang berprofesi sebagai karyawan salah satu bank BUMN ini mengaku harus ada intervensi dari pemerintah untuk mengendalikan harga-harga yang bergejolak.

“Biasa yang saya tahu harus ada operasi pasar. Tapi sampai sekarang saya lihat sudah ada yang turun (instansi terkait,red), tapi masih sebatas pantauan saja,” jelasnya.

Sebelumnya, pihak Dinas Perindag Provinsi Gorontalo juga mengatakan akan segera melakukan operasi pasar dalam waktu dekat ini.

Mengenai kapan waktunya belum bisa ditentukan meski diakui kebutuhan gerakan ini sudah sangat mendesak.

Namun, sumber-sumber terpercaya di beberapa instansi bidang perdagangan menyebutkan bahwa pemerintah daerah rupanya masih menangguhkan operasi pasar karena kondisi politik jelang Pilkada di Gorontalo.

“Soalnya, jangan sampai dikira ini (operasi pasar,red) money politik, atau serangan fajar, atau ada yang sponsori, macam-macam-lah. Jadi, kemungkinan besar semua setelah selesai hari H (pencoblosan,red),” katanya.(axl/hargo)