Hati-Hati Daging Sapi Antrax Dijual Bebas

Ahli kesehatan hewan dari Balai Besar Kesehatan Hewan Maros, Sulawesi Selatan melakukan identifikasi dilokasi tempat pemotongan sapi yang terserang virus antrax di Desa Ulapato, Kecamatan Telaga Biru, (FOTO : Apin/GP)

Hargo.co.id GORONTALO – Kasus penemuan puluhan ekor sapi yang terserang virus antrax di Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo cukup mengguncangkan publik.

Yang paling mengkhawatirkan sapi yang terserang virus antrax ini sebagaian sudah dipotong dan sempat diedarkan ke sejumlah pasar di Kota Gorontalo serta dibagi-bagikan ke sejumlah warga di sekitar Telaga Biru.

“Di desa Ulapato jumlah sapi yang terserang virus antrax sebanyak 7 ekor. Sapi-sapi tersebut sudah dipotong pemilik, kemudian di edar ke sejumlah pasar.Lainnya di bagi-bagi gratis kepada warga setempat,” kata Kepala Desa Ulapato Efendi ketika ditemui awak media, Kemarin, (11/4).

Efendi mengatakan, selama ini tidak ada sapi dari daerah luar yang masuk ke wilayahnya. Sehingga itu, ia mengaku sangat kaget, tiba-tiba saja ada sapi yang tewas terserang virus antrax. “Semua sapi yang terserang virus antrax itu adalah sapi lokal. Tidak di impor dari daerah luar,” kata Efendi.

Setelah di temukannya kasus serangan virus antrax ini, lokasi penyembelihan sapi tersebut akan segera dilakukan pengecoran, karena virus anstrak tersebut hidup di dalam tanah, dan bisa hidup sampai berpuluh tahun maka harus dibuat seperti itu dan tidak cukup dengan penimbunan tanahnya atau dibakar” ujar Efendi.

Efendi juga menyampaikan, untuk mengatasi agar penyakit ini tidak menular ke ternak lain, ia sudah meminta bantuan instansi terkait agar seluruh sapi di desanya dilakukan vaksinasi massal. “Saya sudah minta langsung obat vaksin itu ke Kadis Peternakan Kabgor. Tapi katanya masih dipesan. Mungkin esok (hari ini,red) sudah ada,” jelas Efendi.

Di tempat terpisah, Ramli Poowo (53) pemilik sapi yang terserang antrax di Desa Ulapato membantah jika sapinya sudah positif terserang virus antrax. “Belum pasti. Sampai saat ini instansi terkait juga belum menunjukan kepada saya hasil uji lab sampel darah yang diambil tiga hari lalu,” jelas pria yang akrab disapa pak. Ram itu.

Menurut Ramli pula, sapinya yang tewas dituding terserng antrax itu ada 4 dan tidak mati tiba-tiba dan bersamaan. “Pekan kemarin yang sakit hanya 1 ekor. Kemudian 3 hari lalu 2 ekor, dan kemarin, 1 ekor. Sebelumnya sapi-sapi itu sehat-sehat saja,” ujarnya.

Ramli juga mengaku sudah tak ingat lagi sapi yang dipotongnya ketika sakit itu disebar kemana. Sebab, siapa saja yang datang membeli langsung diberikan.

“Gejala yang muncul di sapi milik saya itu panas-panasan saja. Saya tidak tahu itu antrax atau bukan,” katanya. ”  Sapi milik saya totalnya ada 20 ekor. Setengah diantaranya sudah di jual ke sejumlah pedagang. Sisanya saat ini masih di rawat di kadang,” jelasnya.

Camat Telaga Biru Ismet Tuhala mengatakan, kemarin pihaknya melakukan pertemuan dengan pihak Dinas pertanian, terkait penanggulangan virus antrax agar tidak menyebar luas.

 “Kita juga sudah meninjau langsung lokasi sapi yang diduga terserang antrax itu. Tapi, kita tidak punya alat jadi belum bisa pastikan positif atau bukan,” jelasnya.

Hanya saja Ismet mengimbau, agar masyarakat dapat hati-hati untuk mengkonsumsi daging sapi. Sebab, jika daging yang dikonsumsi mengandung virus antrax, maka bisa menyebabkan kematian.

“Kami minta masyarakat segera melaporkan ke pemerintah desa atau kecamatan jika sudah merasakan gejala aneh dalam tubuhnya,” kita juga sudah menyediakan Posko di salah satu desa sehingga pihaknya lebih mudah lagi untuk menaggulangi bahaya virus yang sangat membahayakan manusia itu,” pungkasnya.(tr-54/tr-48/and/hargo)