Jumlah Sapi Tewas Terus Bertambah

Ilustrasi

Hargo.co.id GORONTALO – Kepala Dinas Kelautan, Perikanakn, dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Gorontalo Haris Tome mengatakan, jumlah sapi yang terserang virus antrax di wilayah Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo bertambah satu lagi. Senin, (11/4), satu ekor sapi tersebut langsung dilakukan pemusnahan.

“Asal penyakit ini masih kita telusuri. Sebab, selama ini Kabupaten Gorontalo bebas dari antrax. Yang diserang pula bukan sapi pengadaan tapi merupakan sapi lokal yang dipelihara masyarakat,” kata Haris.

Endemiknya penyakit Antrax ini kata Haris, berada di wilayah Desa Ulapato A, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Untuk itu, pihaknya sudah melakukan sejumlah langkah pencegahan.

Mulai dari membuat Posko penyakit, berikut telah mendatangkan ahli kesehatan hewan dari Balai Besar Kesehatan Hewan Maros, Sulawesi Selatan.
“Tadi juga sosialisasi sudah mulai kita gelar di Telaga Biru untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat terkait bahaya antrax ini,” kata Haris.

Lebih lanjut disampaikan Haris, pihaknya juga telah membagikan abat vaksinasi sebanyak 500 botol. Obat tersebut dibagikan kepada peternak khusus di wilayah Telaga Biru yang sudah endemik Antrax.

“Jadi akan kita perioritaskan dulu di Telaga Biru dan sekitarnya. Sebab, selain wilayah itu kita golongkan endemik,” jelasnya.
Menurut Haris, penyakit antrax itu jangankan di konsumsi. Dipegang saja bisa berakibat fatal.

Namun, khusus di Telaga Biru tersebut ternyata sudah dipotong oleh pemilik, kemudian di edar ke pasar. “Tapi kita belum tahu peredaran daging itu kemana. Pemilik saat kita tanya tentang itu tak memberikan informasi jelas.

Tapi kita akan terus menyelidiki perjalanan daging sapi itu. Kita takutnya itu sampai di makan, kalau di makan bisa fatal,” katanya.
Di Kabupaten Gorontalo total sapi yang ada sebanyak 80 ribu ekor. Sementara di wilayah Telaga Biru terdapat sekitar 2000an ekor.

“2000 ekor sapi di wilayah Telaga Biru itu sudah kita Isolasi. Kita berharap kejadian ini baru di Telaga Biru. Tapi tentunya koordinasi dengan semua pihak terus kita lakukan untuk menjaga kemungkinan terjadi di tempat lain,” terangnya.

Lebih lanjut disampaikan Haris, kejadian terserangnya viurs antrax di Telaga Biru tersebut cukup aneh. Sebab, antrax bukan penyakit yang menular lewat udara. Tapi lewat sentuhan. Sementara sapi-sapi di Kabupaten Gorontalo semuanya adalah sapi lokal bukan sapi dari luar daerah.

“Munculnya virus ini yang sampai saat ini masih kita selidiki. Sapi yang terserang antrax, tandanya tidak bisa makan dan tidak bisa buang air besar. 2 jam langsung tewas. Gejalanya di Sapi ini nantinya sama pula jika dialami oleh manusia,” katanya.

“Ada pun yang bisa terkontaminasi penyakit antrax, yakni orang yang menyembelih dan orang yang memakan,” sambungnya.¬†Terkait hal ini pula, Haris mengimbau agar masyarakat Gorontalo dapat waspada jika hendak membeli atau mengkonsumsi daging sapi.

Ciri yang paling mencolok harus dilihat dengan baik. Jika daging tersebut memiliki darah hitam dan kental, menandakan daging itu merupakan daging sapi yang terserang virus antrax.

“Antrax bisa menyerang otak dan paru. Tak kurang 24 jam, masyarakat yang terserang antrax bisa langsung tewas,” pungkasnya.(tr-54/tr-48/and/hargo)