Kalau Ngotot Ikut Pilkada, 3 Kader Terbaik Golkar Ini Terancam

Tiga figur terbaik Golkar, Budi Doku, Rum Pagau dan Indra Yasin.

GORONTALO, hargo.co.id – Para kader Golkar yang ngotot ikut Pilkada 2018 walau tak didukung partai, sepertinya akan membayar mahal keputusan politik yang sudah diambil.

Mereka harus menerima risiko pemecatan dari keanggotaan partai. Golkar akan mengambail sikap tegas ini untuk menjaga kewibawaan partai di mata pengurus, kader dan simpatisan.

Dalam konteks pilkada Gorontalo, ada tiga tokoh Golkar yang terancam mendapatkan sanksi pemecatan tersebut. Yaitu Mantan Ketua DPD II Golkar Bone Bolango yang kini menjabat Wakil Bupati Kota Gorontalo, Budi Doku. Mantan Ketua DPD II Golkar Boalemo, Rum Pagau, yang menjabat Bupati Boalemo periode 2012-2017.

Serta Bupati Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), Indra Yasin, yang kini menjadi pengurus DPD I Golkar menempati posisi wakil ketua bidang kerohanian.

Budi Doku dan Rum Pagau menghadapi resiko pemecatan dari keanggotaan Golkar karena, berseberangan dengan Keputusan partai menetapkan Ketua DPD II Golkar Kota Gorontalo, Marten Taha, sebagai calon yang akan diusung Golkar pada pemilihan walikota-wakil walikota (Pilwako) 2018.

Budi Doku tak mau berpasangan dengan Marten Taha dan memilih berpasangan dengan Adhan Dambea menduduki calon papan dua. Duet Adhan Dambea-Budi Doku (AD-CBD) sudah mendapatkan rekomendasi dukungan PAN. Hanura dan Gerindra juga diklaim akan segera bergabung dalam koalisi pengusung paket AD-CBD.

Rum Pagau juga dipastikan akan beda panggung dengan Golkar di Pilwako. Rum Pagau memutuskan untuk mencalonkan diri walikota berpasangan dengan kader PPP Rusliyanto Monoarfa. Pasangan Rum-Rusliyanto berpotensi diusung koalisi PPP-PDIP.

Sementara Indra Yasin juga akan menghadapi ancaman pemecatan karena dipastikan akan berseberangan dengan Golkar pada pemilihan bupati-wakil bupati (Pilbup) Gorut.

Tim pilkada DPP Golkar telah menetapkan Thomas Mopili sebagai calon bupati. Tapi Indra Yasin memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Bupati dan akan berpasangan dengan Thariq Modanggu. Duet Indra-Thariq (Iqra) sudah mendapatkan rekomendasi PAN. Pasangan ini ingin membentuk koalisi gemuk untuk menghadapi Thomas Mopili yang diusung Golkar.

Wakil ketua bidang pemenangan pemilu (Bappilu) DPD I Golkar Gorontalo, Fikram Salilama, menegaskan, kader Golkar pada dasarnya sudah tahu apa langkah-langkah yang akan diambil partai. Setelah ada keputusan DPP menetapkan calon Golkar, maka semua kader dan pengurus partai, wajib untuk mendukung dan mengamankan keputusan itu. “Suka atau tidak suka kader harus mematuhi keputusan partai,” jelasnya.

Oleh karena itu Fikram mengatakan, bila nanti rekomendasi tim pilkada DPP Golkar sudah bermuara pada lahirnya surat keputusan (SK) DPP tentang penetapan calon, maka semua kader Golkar harus mengamankan keputusan itu.

“Yang tidak patuh akan menerima sanksi. Kalau yang masuk dalam struktur kepengurusan partai otomatis akan diberhentikan. Yang kader partai biasa, dianggap sudah bukan lagi bagian partai,” isyarat Fikram.

About Admin Arifuddin

Senang menulis dengan nuansa kesederhanaan

View all posts by Admin Arifuddin →