KAMI BUKAN BARANG!

ilustrasi

Hargo.co.id – Selamat Hari Kartini! Raden Adjeng Kartini emang jadi salah seorang pahlawan emansipasi perempuan. Kini, berkat perjuangannya, perempuan bisa lebih bebas berkarya dan bersuara. Nah, pada zaman kesetaraan gender banyak disuarakan seperti sekarang, ternyata justru timbul pertanyaan baru.

Yap, apakah perempuan udah mendapatkan perlindungan dan kehormatan seperti yang juga diperjuangkan Kartini dulu? Kenyataannya, sejak zaman penjajahan hingga sekarang, kehormatan perempuan belum dihargai sepenuhnya. Lebih parahnya, masih ada orang yang menganggap perempuan hanya sebuah objek atau benda yang dapat dinilai, dipertaruhkan, bahkan dipermainkan. Contoh sederhananya adalah perilaku membanding-bandingkan perempuan secara fisik layaknya sebuah barang tanpa menghargai perasaannya.

Nah, buat cewek, pernah nggak sih ngerasa risi saat jalan di depan kerumunan laki-laki yang kemudian menggodamu? Pasti kalian pernah merasa waswas dan nggak nyaman saat hal tersebut terjadi. Yap, itulah salah satu bentuk objektifikasi yang dikenal dengan istilah catcalling. Siulan, panggilan, atau komentar yang mengarah ke fisik merupakan bentuk
objektifikasi perempuan yang jarang disadari.

Bukan hanya itu, pada zaman yang makin canggih ini, objektifikasi bisa dilakukan melalui media online. Adanya grup chat di media sosial membuat kaum laki-laki lebih leluasa membahas detail soal perempuan. Buktinya, 43 persen Zetizen cowok punya grup chat khusus cowok. Sebanyak 25 persen Zetizen di antaranya sering membahas perempuan. Mulai fisik hingga membanding-bandingkan dengan perempuan lain.

Meski wajar, perilaku tersebut berbahaya jika dibenarkan dalam kehidupan sehari-hari. Bakal muncul pemakluman terhadap perilaku objektifikasi perempuan. Buat perempuan, hal tersebut berbahaya karena pelecehan verbal dapat menjadi kebiasaan dan berkembang menjadi pelecehan fisik.

Walau bukan hal mudah, menghargai perempuan bisa dibiasakan kok. Salah satunya udah diterapkan salah seorang Zetizen, Bryan Ramadhana, 17. Menurut dia, objektifikasi perempuan nggak bisa serta-merta dianggap wajar. (abs/c22/als/hargo)

KATA MEREKA TENTANG KARTINI :

Rahmatia Mohamad
SMKN 4 Gorontalo

Mengganggu Kenyaman Kami

Biasanya kalau pulang sekolah lewat gerbang, ada cowok-cowok khususnya abang bentor yang suka modus. Mereka biasanya bersiul “suit..suit..” dan mengatakan “Juga nae ti om pe bentor, nanti mo kase gratis”. Bahkan, ada juga yang lebih aneh dan sok-sok kenal. Mereka asal sebut nama padahal juga tidak kenal sama sekali. Orang-orang seperti inilah yang sangat mengganggu kenyamanan kaum hawa. Karena kurangnya rasa sopan. Sehingga, hal ini perlu ada tindakan dalam hal penanganan agar tidak menimbulkan hal-hal negatif. (ZT-07)

Irawaty Djako
Universitas Negeri Gorontalo

Diganggu lewat Media Sosial

Zaman sekarang, membuat cewek merasa terganggu tidak harus secara langsung. Sebab, sudah ada media sosial yang bisa membuat seseorang terhubung dengan siapa saja. Di medos, aku biasa diganggu oleh cowok-cowok yang tidak kukenal. Di chat berulang-ulang membuatku risih dan tidak nyaman. Karena merasa terganggu, aku pun memutuskan untuk memblokir atau men-delcon cowok tersebut. (ZT-08)

1 KOMENTAR

  1. Benar adanya apa yg telah saudari rilis tentang kaum hawa . Sbg pria sayapun ikut prihatin terhadap apa yang dirasakan oleh kaum hawa yg sering kali dijadikan objek oleh mereka kaum pria yg tak sepantasnya mereka lakukan padahal Rasulullah S.a.w. Telah meninggikan martabat kaum hawa.

Comments are closed.