Ketika Kader Golkar Bertaburan di Panggung Pilkada 2018, Siapa Lebih Pantas?

GORONTALO, hargo.co.id – Konstelasi Pilkada 2018 di Gorontalo, baik pemilihan walikota-wakil walikota (Pilwako) Gorontalo maupun pemilihan bupati-wakil bupati (Pilbup) Gorontalo Utara (Gorut) 2018 mendatang, telah mengerucut pada pasangan calon.

Gencarnya lobi politik kandidat maupun partai politik jelang pendaftaran pasangan calon pada Januari 2018, membuat kondisi politik yang awalnya masih mencair kini sudah terpola pada beberapa kekuatan politik.

Di Pilwako Gorontalo, besar kemungkinan hanya akan ada tiga kekuatan politik yang akan beradu di pentas suksesi. Yaitu poros koalisi partai yang akan mengusung petahana Marten Taha.

Ada dua partai politik yang sudah menentukan sikap mendukung Marten Taha yang merupakan Ketua Golkar Kota Gorontalo itu, sebagai calon walikota di Pilwako tahun depan.

Yaitu Golkar yang memiliki empat kursi dan Partai Bulan Bintang (PBB) yang memiliki dua kursi di DPRD Kota Gorontalo. Hingga kini belum ada kepastian pendamping Marten Taha.

Tapi belakangan menguat dua nama. Yaitu kader muda Golkar Riyan Kono, serta mantan auditor utama BPK-RI Sjafrudin Mosii. Saat bertemu Marten Taha belum lama ini, Sjafrudin sudah memberikan garansi bila Marten memilihnya sebagai calon wakil walikota, dia akan membawa tambahan gerbong partai dalam koalisi pengusung. Yaitu Demokrat dan PDIP.

Poros kedua adalah koalisi yang akan mengusung mantan walikota Adhan Dambea dan Wakil Walikota Charles Budi Doku yang merupakan kader Golkar, sebagai calon walikota-wakil walikota. Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengoleksi empat kursi di DPRD Kota Gorontalo sudah menjatuhkan dukungan untuk duat Adhan Dambea-Charles Budi Doku (AD-CBD).

Beberapa partai yang berpotensi untuk memberikan dukungan bagi pasangan ini yaitu Hanura dan Gerindra yang masing-masing memiliki 3 dan 2 kursi di DPRD Kota Gorontalo. Kemarin (8/10) Adhan Dambea bahkan ikut mendaftar dalam penjaringan calon walikota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk bisa mendapatkan dukungan partai berlambang kabah itu.

Poros ketiga yaitu koalisi yang akan mengusung mantan bupati Boalemo Rum Pagau yang juga merupakan kader Golkar, serta politisi PPP Rusliyanto Monoarfa yang kini menjadi anggota DPRD Provinsi. Kandidat calon walikota-wakil walikota. Rum Pagau-Rusliyanto Monoarfa yakin akan diusung PPP-PDIP di Pilwako nanti.

Sementara, kekuatan politik yang terbentuk di Pilkada Gorut, hanya mengerucut pada dua kubu. Yaitu koalisi partai yang akan mengusung petahana Indra Yasin yang merupakan kader Golkar dan dikabarkan bakal pindah ke PAN.

Indra Yasin memutuskan menggandeng figur akademisi Thariq Modanggu yang telah memutuskan berpasangan sebagai calon bupati-wakil bupati.

Pasangan ini telah mendapatkan dukungan Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengoleksi lima kursi di DPRD Gorut. Walau dukungan PAN itu sudah mencukupi syarat dukungan, Indra-Thariq masih akan menggalang dukungan partai lain seperti PPP, PDIP, PKS, Demokrat, dan Gerindra untuk mengusung koalisi gemuk.

Kekuatan politik kedua yaitu dengan figur calon bupati Thomas Mopili yang merupakan Ketua Golkar Gorut. Partai Beringin yang mengoleksi lima kursi di DPRD Gorut sudah menetapkan Thomas Mopili sebagai calon bupati yang akan diusung di Pilbup Gorut tahun depan. Walau tak berkoalisi dengan partai lain, Golkar memenuhi syarat untuk mengusung satu pasangan calon.

Thomas Mopili sampai sekarang juga belum menetapkan figur pendamping. Tapi ada tiga nama yang disebut Thomas Mopili yang menguat sebagai calon pendamping. Yakni Wakil Bupati Gorut Roni Imran, Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Provinsi Wemy Liputo, serta pengusaha properti Syaiful Hasania.

Namun bila dicermati, komposisi pasangan calon yang berpotensi besar menjadi kontestan Pilwako Gorontalo dan Pilbup Gorut 2018, mayoritas merupakan kader Golkar. Tiga poros di Pilwako, masing-masing mengusung kader Golkar. Yaitu. , Marten Taha, Charles Budi Doku, serta Rum Pagau. Begitupun dengan Pilbup Gorut yang bakal menampilkan Indra Yasin dan Thomas Mopili dalam panggung yang berbeda.

Tak heran realitas itu memantik spekulasi bahwa Golkar menjalankan strategi politik ‘seribu kaki’ di Pilkada 2018. Langkah Partai Golkar menyebar kader di semua kekuatan politik yang akan bertarung di Pilwako dan Pilbup Gorut, bakal menjadi strategi jitu untuk mempertahankan tradisi Golkar yang selalu berada dalam lingkaran kekuasaan. Siapapun pasangan calon yang akan meraih suara terbanyak di pilkada, maka secara otomatis Golkar akan jadi pemenang.

Strategi politik ini bukan hal baru dilakukan Golkar. Di Pilpres 2004 lalu, saat citra Golkar terpuruk pasca reformasi 98/99 karena dianggap partai peninggalan rezim Soeharto, Golkar mengambil politik ‘aman’. Secara struktural, Golkar mengusung Wiranto sebagai Capres. Tapi di panggung lain, kader Golkar Jusuf Kalla (JK)berpasangan dengan Susilo Bambang Yudoyono. Setelah menang Pilpres, JK memimpin Golkar.

Di Gorontalo, Golkar juga pernah main ‘dua kaki’ di Pilgub 2011 silam. Saat itu, Golkar mengusung Rusli Habibie sebagai Calon Gubernur. Tapi di panggung lain, kader Golkar Tony Uloli mencalonkan diri wakil gubernur berpasangan dengan petahana Gusnar Ismail.

Apakah Golkar memang menerapkan politik ‘banyak kaki’ di Pilkada 2018? wakil ketua bidang pemenangan pemilu (Bappilu) DPD I Golkar Gorontalo, Fikram Salilama menepisnya.

“Tidak seperti itu. Tapi itu (banyaknya kader yang ikut Pilkada.red) jadi indikator bahwa Golkar satu-satunya partai yang banyak melahirkan kader-kader handal. Buktinya di semua partai kader Golkar terterima,” ujar Fikram Salilama. (rmb/hargo)

About Admin Arifuddin

Senang menulis dengan nuansa kesederhanaan

View all posts by Admin Arifuddin →